Sunday, April 19, 2015

Asal-Usul Banyuwangi Part 2

Pagi itu hari sangat cerah. Ni Kembang Arun melakukan tugas sehari-hari seperti biasa dan tidak mengenal lelah. Sorenya Ni Kembang Arun merasakan nyeri pada perutnya. Kemudia ia memanggil Bibi Emban.

anak Ni Kembang Arun
Bayi Lucu
Beberapa menit kemudian Bibi Emban masuk ke kamar Ni Kembang Arun. Bibi Emban langsung memeriksa perut Ni Kembang Arun. Mungkin ini tanda-tanda melahirkan sudah dekat. Cepat-cepat Bibi Emban memanggil dukun beranak yang tidak jauh dari rumahnya.

Dukun beranak itu kemudian datang dan membantu persalinan Ni Kembang Arun. Beberapa saat kemudian seorang bayi laki-laki mugil. Alangkah bahagianya hati Ni Kembang Arun karena anaknya lahir dengan selamat dan ternyata berjenis kelamin laki-laki. Ia berharap besok dapat meneruskan cita-cita ayahnya.

Berita kelahiran anak Ni Kembang Arun sampai juga ke telinga Pandanwungu. Ibu Sidapaksa sangat senang. Senang bukan karena cucnya sudah lahir, tetapi senang karena rencana jahatnya untuk mencelakakan Ni Kembang Arun sudah tiba waktunya. Keesokan harinya, Pandanwungu sengaja menjenguk menantunya yang baru saja melahirkan.

“selamat ya... Aku sudah lama menantikan kehadiran cucuku ini. Aku sangat senang dan bahagia hari ini”, Kata Pandanwungu.

“terimakasih ibu. Semoga anak ini dapat menjadi harapan dan kebanggaan ayahnya”, jawab Ni Kembang Arun.

“Harapanku juga”’,sahut Pandanwungu

Seminggu sudah berlalu, Ni Kembang Arun Sedikit demi Sedikit pulih kembali kesehatannya setelah melahirkan. Ia sudah bisa pergi sendiri, mandi dan mencuci. Sementara itu, Pandanwungu sering menjenguk kerumahnya.

“Aku akan sering kemari dan akan kubawakan oleh-oleh sampai kesehatannmu sampai benar-benar pulih. Dan aku akan membantu mengurus anakmu”, kata Pandanwungu.

Ni kembang Arun menjadi semakin percaya dan tak pernah menaruh prasangka buruk lagi pada mertuanya. Ia berpikir bahwa mertuanya telah berubah dan mulai sayang kepadanya setelah kelahiran cucunya.

Suatu hari seperti biasanya Pandanwungu menjenguk cucunya. Ia akan melaksanakan rencana jahatnya menculik dan membunuh cucunya sendiri. Kebetulan saat sampai disana Ni Kembang Arun akan berangkat mandi.

“Sudah berangkat mandi sana, ibu akan menjaganya, tapi ibu tidak akan lama-lama disini!” Kata Pandanwungu.

“Terimakasih, Bu”, jawab Ni kembang Arun.

Pandanwungu tidak kehabisan akal, ia menyuruh Bibi Emban untuk pergi. Setelah sepi diraihlah bayiyang tak berdosa itu dan dibanyapergi menuju hutan. Tepat di pinggir sungai di tepi hutan itulah Pandanwungu menikam cucunya sendiri dengan pisau dan kemudian membuang cucunya ke sungai yang keruh dan berbau busuk itu.

Alangkah terkejutnya Ni Kembang Arun, Karena setelah sampai di rumah ia tidak menemukan anaknya. Anakku telah hilang, pikirnya. Kemudian, ia menanyakan kepada Bibi Emban, tetapi Bibi Emban tidak tahu karena dia disuruh pergi oleh mertuanya. Ni Kembang Arun mulai curiga, bahwa yang mengambil anaknya adalah Pandanwungu, mertuanya. Namun tidak punya cukup bukti.

Setelah kehilangan anaknya, Ni Kembang Arun mulai sakit-sakitan dan pikirannya mulai terganggu. Ia mulai lupa makan dan minum. Bagaimana kalau suaminya pulang dan menanyakan anaknya?

Saturday, April 18, 2015

Asal-Usul Banyuwangi Part 1

cerita legenda Asal-Usul Banyuwangi
Asal-Usul Banyuwangi
Di jawa Timur terdapatlah kerajaan yang bernama Karang Sewu.Raja yang memegang pemerintahan bernama Prabu Sindureja. Beliau raja yang sangat bijaksana dan adil, sehingga rakyatnya selalu menjunjung tinggi apa yang dikatakannya

Kerajaan ini sangat kaya raya, terbukti dengan adanya istana yang indah dan megah. Rakyatnya pun hidup dengan damai dan sejahtera karena kerajaan ini sangat subur dan makmur.

Siang itu, di dalam istana tamplah Prabu Sindureja sedang bercakap-cakapbersama permaisurinya, Kencanawati, mereka sedang membicarakan Patih Sidapaksa, Patih Sidapaksa adalah seorang patih yang setia dan gagah perkasa.

Memang dalam menjalankan pemerintahannya, Prabu Sindureja banyak dibantu oleh Prabu sidapaksa. Dia selalu dapat menjalankan tugas yang diberikan kepadanya dengan baik walaupun tugas itu sangat berat

“Dinda, hari ini aku baru saja memberikan waktu istirahat kepada Patih Sidapaksa selama 2 minggu, dia baru saja melaksanakan tugasnya dengan baik. Ia membutuhkan waktu istirahat yang lama”, kata Prabu Sindureja.

“saya tahu Baginda adalah Raja yang bijaksana, apapun yang menjadi kebijakan Baginda pasti baik buat Patih Sidapaksa”,jawab Kencanawakti.

Lagi asyik berbincang-bincang, datanglah Bibi Pandanwungu . Ia dalah ibu dari Patih Sidapaksa. Ada apa gerangan Bibi Pandanwungu datang ke istana, apa yang terjadi dengan Patih Sidakpaksa, Putramu?

Setelah menghaturkan sembah, Bibi Pandanwungu menjelaskan maksud kedatangannya dan juga mengabarkan bahwa Patih Sidapaksa dalam keadaan sehat.

“Maksud kedatangan saya ingin membicarakan kembang Kandaga Sangga Buana. Kembang yang dapat meremajakan kecantikan abadi bagi yang memakainya. Kembang ituhanya ada dipubncak Gunung Ijen, dan dijaga oleh binatang buas”, Kata Bibi Pandang Wungu.

“tapi siapa yang mau menempuh perjalanan berbahaya untuk mendapatkan bunga itu” tanya Dinda Kencanawati.

“ Biar anak saya, Patih Sidapaksa yang akan melaksanakan tugas ini, dia pasti mau menjalankan tugas ini walaupun masih istirahat”, Ujar Bibi Pandanwungu

Stelah berpikir, raja menugaskan Ptih Sidapaksa untuk mengambil bunga itu. Dan Bibi pandanwungu untuk menyampaikan tugas ini kepada anaknya.

Setelah sampai dirumah, Bibi Pandanwungu menyampaikan tugas ini kepada anaknya yang sedang beristirahat. Dia membujuk agar Patih Sidapaksa mau menerima dan berangkat ke Gunung Ijen walaupun masih membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Akhirnya, Demi kesetiaan kepada Raja Parbu Sidureja, Patih Sidapaksa berangkat ke istana. Sebelum ia berangkat,Patih Sidapaksa berpamitan pada istrinya, Ni Kembang Arun yang sedang mengandung dan akan segera melahirkan putra pertamany. Ia juga pamit pada ibunya serta berpesan untuk menjaga dan merawat istrinya selama dia tidak ada dirumah. Kemudian, Patih Sidapaksa berangkat Ke Istana.

“Sudah siapkah engkau menerima perintahku, wahai Patih Sidapaksa”Tanya Prabu Sindureja.

“Daulat, Baginda. Saya sudah siap untuk menjalankan tugas yang akan disampaikan Baginda”,Kata Patih Sidapaksa.

“Patih, Engkau akan Kutugaskan untuk pergi ke puncak Gunung Ijen. Carilah bunga yang benama Kembang Kandaga Sangga Buana. Petiklah dan persemabhkan untuk permaisuriku Kencanawati”, perintah Prabu Sindureja.

Setelah dijelaskan tugasnya dan mendapatkan restu dari Prabu Sindureja, Patih Sidapaksa Berangkat ke puncak Gunung Ijen yang terkenal sangat berbaya dengan menunggangi kuda kesayangannya.

Patih Sidapaksa memacu kudanya begitu cepatnya,sehingga tak berapa lama ia sudah sampai di pinggir hutan yang banyak Ditumbuhi pohon besar dan semak belukar.

Setelah memasuki dan melewati hutan itu, sampailah Pati Sidapaksa di lereng Gunung Ijen. Sambil beristrirahat, ia melamunkan istrinya yang akan melahirkan. Alangkah bahagianya jika anak pertamnya sudah lahir kedunia. Ia terus mengucapkan doa-doa untu kesehatan istri dan anaknya.

Saat melantunkan doanya, tioba-tiba ia teringat peristiwa itu, ibunyatidak setuju anaknya mendapatkan istri Ni Kembang Arun. Patih Sidapaksa pun berharap ibunya sudah tidak membenci istrinya lagi.

Apa yang dibayangkan oleh Patih Sidapaksa ternyata salah. Ternyata perilaku ibunya terhadap istrinya tidak berubah. Dia mulai menunjukan rasa tidak suka dan menunjukan benih-benih kebencian terhadapat Ni Kembang Arun mulai tumbuh.

Pada suatu hari ibu Patih Sidapaksa berkunjung kerumah Ni Kembang Arun, Saat itu Ni kembang Arun sedang membuat pakaian anaknya yang akan dilahirkan kelak. Ibu Patih Sidapaksa langsung marah-marah dan mengucapkan kata-kata penghinaan.

“Kembang Arun, dasar wanita tolol, goblok, engkau tahukah suamimu sedang pergi ke puncak Gunung Ijen, mengapa kamu duduk-duduk saja dirumah. Seharusnya kamu pergi keistana untuk mendapatkan perhatian raja dan ratudan pergaulan kerabat kerajaan tetap terjaga. Dasar gadis kampung tak tahu adat. Engkau sebenarnya tak pantas menjadi istri pejabat kerajaan”, Bentak Pandanwungu.

“Ibu, Saya memang gadis dusun dan kuran pengetahuan, tetapi saya diajarkan orang tua saya, bahwa wanita tidak boleh ikut campur dengan urusan suminya, kecuali kalau diminta. Namun, kalau raja dan ratu memerlukan saya agar datang keistana, tentu saja saya akan memenuhinya”, jawab Ni Kembang Arun.Mendengar jawaban Ni Kembang Arun begitu, Pandanwungu langsung pergi begitu saja.

“Percuma bicara dengan wanita bodoh. Wanita seperti akan segera ku lenyapkan. Tinggal tunggu waktu saja”, Katanya dalam hati.

Waktu terus berlalu. Patih Sidapaksa belum terdengar kabarnya. Dengan setia Ni Kemabng Arun menunggu dan mendoakan suaminya agar cepat pulang.

Sunday, March 29, 2015

Asal-Usul Madura

Dahulu kala berdirilah sebuah kerajaan di atas pegungan Tengger. Kerajaan itu bernama kerajaan Medangkamulan. Letak kerajaan itu dekat kawah Gunung Tengger.

Kerajaan Medangkamulan diperintah oleh seorang raja yang bernama Raja Gilingwesi. Keadaan kerajaan tersebut aman dan sejahtera karena sang raja yang sangat arif dan bijaksana serta adil dalam memimpin kerajaannya, sehingga rakyaatnya hidup tentram dan hormat kepadanya.

Pada sauatu hari duduklah sang raja seorang diri sambil termenung. Ia sedang sedih memikirkan puterinya yang sudah cukup umur tapi belum menikah. Padahal sudah banyak pangeran dan raja dari kerajaan tetangga yang melamarnya. Namun sang putri selalu menolak.

Sessat Kemudian raja memanggil Ki Patih Pranggulang.

“Ki Patih, tahukah Ki Patih bahwa Raden Ayu Tanjung Sekar adalah satu-satunya putri yang amat saya cintai. Dia sangat cantik, sikapa dan tutur katanya sangat lembut. Tetapi ada satu hal yang masih mengecewakan hati saya”, keluh Sang Raja.

“Gusti, sebenarnya sesuatu hal yang mana dari sang putri yang masih mengecewakan Gusti?”, Sahut Ki Patih.

“ Ki Patih kan tahu, bahwa saya sudah ingin menimang-nimang cucu. Tetapi kapan keinginan saya ini akan terlaksana kalau putri saya sendirimenolak setiap ada yang melamarnya”, jelas raja Gilingwesi.

“Gusti, sebaiknya kita berdoa saja, sabar akan memberikan kesempatan sang putri agar segera menemukan pilihan yang terbaik”, sahut Ki Patih.

Beberapa saat kemudian terjadilah suatu peristiwa yang mendadak dan mengejutkan. Sang putri hamil, padahal belum memiliki seorang suami.

Kejadian ini berawal dari sebuah mimpi yang dialami sang putri pada saat ridur lelap.rasanya dalam mimpi itu sang putri berada di sebuah taman yang sangat indah. Pada saat sang putri berdiri di bawah bulan purnama, maka tiba-tiba bulan purnama itu muncul dan menuju sang putri lalu masuk ke dalam perut sang putri.

Lama-lama perut sang putri semakin membesar dan ternya dirinya hamil tanpa memiliki suami.

Betapa terpukulnya hati sang raja dan beratnya menahan rasa malu.untung kejadian itu tidak di ketahui rakyatnya, sehingga tidak ada tuduhan bahwa putrinya telah berbut zina, karena hamil tidak diketahui siapa lelakinya.

Meskipun sang putri telah menjelaskan kejadian yang sebnarnya kepada ayahandanya, bahwa kehamilannya terjadi setelah mimpi yang aneh, ia tetap tidak percaya dan bahkan sang raja semakin marah sekali.

Dengan geram sang raja memanggil Patih Pranggulang.

“Hai Parnggulang, bawa putri yang memalukan ini kedalam hutan dan bunuhlah!” Perintah sang raja.

Dengan perasaan sedih dan pilu sambil terisak tangis putri Tanjung Sekar tetap dibawa kehutan oleh Patih Pranggulang.

Setelah berhari-hari berjalan, sampilah mereka di hutan bakau. Di situlah mereka berhenti dan sang patih mulai menjalankan tugasnya membunuh sang putri. Namun, sebelumnya sang putri berpesan kepada Ki Patih Pranggulang.

“Ki Patih, Bunulah saya sekarang juga. Saya serahkan dengan ikhlas nyawa ini. Namun, ketahuilah bahwa saya tak bersalah dan tak mungkin mati karena pedangmu itu”,tanntang sang putri.

Setelah selesai bicara itu, maka Ki Patih Pranggulang mengayunkan pedangnya ke leher sang putri. Namun, apa yang terjadi, pedang Ki Patih Pranggulangterpental seperti ada yang menangkis.

Akhirnya ki Patih Pranggulang sadar, dan berkata dalam hati bahwa apa yang diucapkan sang putri itu benar , sehingga pedangnya terpental dan tidak mampu membunuhnya.

Dengan rasa iba, Ki Patih Pranggulang mempersilahkan sang putri pergi jauh meninggalkan Pulau Jawa.

“Putri, sekarang saya sadar, bahwa putri tidak bersalah atas kehamilan sang putri. Sebaiknya putri mencari tempat yang aman untuk menyelamatkan kandungan sang putri sampai masa kehamilan berakhir. Dan saya sendiri tidak akan kembali ke Medangkamulan, tetapi saya akan bertapa untuk menenangkan hati dan menjalani sisa hidup saya ini. Saya akan mendoakan agar putri dan bayi yang dilahirkan nanti dalam kebahagian bersama”,ucap Ki Patih Pranggulang.

Selesai berkata demikian, kemudia Ki Patih Pranggulang membuatkan putri sebuah rakit. Rakit itu diisi dengan perbekalan secukupnya untuk menyebrang ke laut lepas jauh menuju timur Pulau Jawa.

Sang putri merasa tenang dan pasrah serta selalu ingat pesan Ki Patih Pranggulang bahwa setelah anaknya lahir agar diberi nama Raden Segara, yang artinya anak laut. Patih Pranggulang juga berpesan untuk menghubungi tempat pertapaanya dulu itu dengan sebutan Ki Poleng.

Sementara rakit yang dinaiki sang putri semakin menjauh dari daratan Pulau Jawa dan akhirnya mendekat kesalah satu pulau. Betap gembira sang putri melihat salah satu daratan di sebuah pulau itu.

“kapan ya? Anaku akan lahir, aku sudah tidak sabar menantinya” kata sang putri dalam hatinya.

Tiba-tiba setelah rakitnya berada tepat dibawah bulan purnama, lahirlah sang bayi dengan selamat. Sang bayi itu diberi nama Raden Segara seperti pesan Ki Poleng, karena lahirnya ditengah lautan.

“Inilah tempat anaku nanti, aku akan membesarkan anakku ini sampai dewasa bahkan bisa hidup sampai tua denganku nanti”, Kata sang putri.
lebah madu asal usul madura
Lebah Madu

Tiba-tiba sang bayi melompat dan berlari-lari ke tepi pantai setelah melihat daratan yang sangat luas penuh reumputan. Sungguh suatu keajaiban anak yang baru beberapa hari lahir sudah bisa lari kesana kesini. Mereka berdua lalu berjalan-jalan menyusuri pantai.

Keadaan disana sunyi sepi. Tak ada seorang pun disana. Mereka hanya mendengar burung-burung berkicau, suara ombak, dan desir angin pantai. Setelah bejalan cukup lama mereka hanya melihat padang rumput yang sangat luas dan sebuah bata pohon besar.

Di bawah pohon tersebut mereka berdua beritirahat. Ternyata disalah satu dahan pohon itu ada sarang lebah yang banyak madunya. Dengan berani Raden Segara mendekati sarang lebah itu dan mengusir semua lebah penghuni sarang. Setelah lebah-lebah itu terbang jauh, mereka berdua bisa menikmati manisnya madu tersebut. Begitulah Putri Tanjung Sekar dan Raden Segara mencari madu setiap harinya

Setelah dewasa dan akhirnya sampai tua mereka tetap tinggal di pulau itu. Dengan adanya madu yang didapat di ara-ara ( bahasa Jawa ara-ara artinya ladang ), maka pulau itu mereka beri nama Pulau Madura. Raden segara atas nasihat Ki Poleng yang sudah bertemu dengan mereka akhirnya menjadi raja disitu. Begitulah asal usul pulau madura

Tuesday, March 17, 2015

Joko Tole Part 2

Cinta Joko Tole
Joko Tole menikah dengan Dewi Retnadi
Pesta pernikahan diselengarakandan digelar di seluruh penjuru kerajaan dengan sangat meriah. Banyak sekali pergelan dan tontonan menarik yang diadakan pada saat pesta pernikahan itu. Rakyat bergotong-royong menyukseskan pernikahan putri rajanya. Memang benar bukan saja kerajaan Majapahit sebagai kerajaan yang kaya dan makmur tetapi rakyatnya pun hidup rukun dan damai.

Rakyat sangat setuju dengan pernikahan mereka berdua. Joko Tole adalah seorang pemuda yang setia dan tulus hatinya, sedangkan Dewi Retnadi seorang putri raja yang baik budi dan welas asih. Namun ada rakyat yang tidak setuju, mereka berpikir karena mengapa raja memberikan seorang istri yang buta kepada joko tole yang telah berjasa bagi kerajaan.

Setelah pernikahan selesai, Joko Tole berniat memboyong istrinya ke tanah kelahirannya, yaitu Pulau Madura. Dewi Retnadi pun setuju dan besok mereka berdua akan menghadap raja untuk memohon restu.

Pagi-pagi benar Joko Tole dan Dewi Retnadi sudah menghadap raja dan mengutarakan maksudnya.

“Baginda, hari ini hamba mempunyai rencana untuk memboyong Dewi Ratnadi ke Pulau Madura, semoga Baginda mau merestuinya,”kata Joko Tole memohon.

“Joko Tole, aku percaya kepadamu, putriku akan bahagia bersamamu. Aku merestui perjalanmu,” kata Baginda.

“Terimakasih atas restunya, Baginda,” jawab Joko Tole dengan gembira.

Setelah mempersiapkan bekal secukupnya, mereka pun berangkat. Begitu sayangnya pada Dewi Retnadi, Joko Tole menggendongnya dalam perjalanan dan segala pasti menyediakan dan melakukannya dengan setia dan tulus hati. Seperti makanan, minuman,bahkan Joko Tole bercerita dalam perjalanan agar Dewi Retnadi tidak merasa bosan.

Siang itu matahari begitu teriknya. Kota Gresik adalah kota pelabuhan yang sangat ramai. Banyak sekali para pedagang dari luar Jawa dan luar negeriyang berlabuh di situ. Tibalah Joko Tole dan Dewi Retnadi di pelabuhan itu.

Kemudian mereka berdua menaiki kapal untuk menyebrang ke Pulau Madura. Mereka sangat menikmati perjalanan tersebut. Apalagi Dewi Retnadi yang walaupun buta tetap bisa merasakan hembusan angin yang panas siang hari dan malam hari. Maklum Dewi Retnadi sejak lahir berada di Keraton Majapahit terus dan tidak mengenal dunia luar. Apalagi sampai menyebrang Selat Madura.

Sesampainya di Pulau Madura, Dewi Retnadi merasa kegerahan karena keadaan cuaca di Madura terlalu panas. Langsung saja ia meminta suaminya untuk mencarikan air yang akan digunakan untuk mandi.

“Kakang aku kegerahan, tolong carikan air,ya. Aku ingin mandi,”pinta Dewi Retnadi.

“Ya, aku akan mencarikan air buatmu, tunggu sebentar,ya! Jawab Joko Tole.

Tak berapa lama kemudian munculah Joko Tole dengan wajah tampak lesu. Dia tidak mendapatkan air yang dibutuhkan istrinya.

“Aku sudah mencarinya kemana-mana tetapi memang tidak ada sumber air atau sumur didaerah ini. Tetapi demi kamu aku akan berusaha mendapatkannya,” kata Joko Tole.

Kemudian Joko Tole meminjam tongkat yang dibawa oleh Dewi Retnadi dan menancapkannya tongkat itu ke tanah. Dari dalam tanah bekas tancapan itu keluarlah air yang langsung menyembur ke atas. Semburan air itu tepat mengenai wajah Dewi Retnadi.

Dewi Retnadi terkejut dan langsung mengusap wajahnya dengan tangan. Setelah diusap, ia tambah terkejut karena matanya dapat melihat. Dewi Retnadi sangat gembira karena bisa melihat ketampanan wajah suaminya serta melihat keindahan dunia untuk pertam kalinya.

Begitu juga dengan Joko Tole, ia gembira karena istrinya sekarang dapat melihat, apalagi ternyata mata istrinya sangat indah.

Sumber air yang membuat Dewi Retnadi dapat melihat sekarang bernama mata air Socca. Socaa artinya mata.

Perjalan ke rumah Joko Tole masih jauh, tetapi mereka tampak senang dan menikmati perjalanan tersebut. Sekarang Joko Tole tidak harus menggendong Dewi Retnadi lagi karena dia sekarang sudah dapat melihat dengan jelas.

Sesekali Dewi Retnadi meminta Joko Tole untuk berhenti sejenak karena kelelahan. Saat istirahat itulah digunakan Dewi Retnadi untuk mandi. Memang hawa di Pulau Madura sangat panas. Air yang digunakan untuk mandi diperoleh dengan cara yang sama dengan menancapkan tongkat ke tanah. Memang benar di sepanjang perjalanan Joko Tole dan istrinya tidak ada sumur maupun mata air.

Air menyembur cukup deras setelah Joko Tole menancapkan tongkatnya ke tanah. Sampai-sampai air itu menghanyutkan pakaian Dewi Retnadi. Kemudian, dengan kesaktian Joko Tolealiran sungai itu diubah arahnya kembali menuju ke dewi Retnadi lagi, sehingga dengan mudah istrinya mengambil pakain tersebut.

Sumber air yang menghanyutkan pakaian Dewi Retnadi sekarang dikenal dengan nama sumber Omben yang artinya mata air pakaian dalam perempuan. Dinamakan begitu mungkin karena dahulu pernah menghanyutkan pakaian Dewi Retnadi.

Kemudian sampailah mereka di Sumenep, tanah kelahiran Joko Tole. Sumenep adalah sebuah Kabupaten di sebelah timur Pulau Madura. Adipatinya bernamaSaccadiningrat, kakak kandung dari Joko Tole sendiri. Kedatangan mereka disambut oleh Bapak dan Ibu Joko Tole serta saudara-saudaranya dengan gembira. Memang sudah lama sekali Joko Tole meninggalkan tanah kelahirannya.

“Anakku Joko Tole, akhirnya engkau pulang juga. Aku sudah rindu padamu. Ooh, ini siapa? Pasti mantu ibu, cantik sekali,” sambut ibu Joko Tole dengan gembira.

“ Benar bu, ini Dewi Retnadi istri Joko. Dia putri raja Majapahit,”jelas Joko Tole.

Orang tua Joko Tole merasa bangga karena menantunya adalah seorang putri raja yang sangat cantik.

Joko Tole dan Dewi Retnadi hidup bahagia di Sumenep. Bahkan akhirnya, Joko Tole menggantikan kakaknya sebagai adipati Sumenep. Mereka tinggal di sana Selama-lamanya.

Tuesday, March 10, 2015

Joko Tole Part 1

foto Joko tole
Joko Tole
Joko tole adalah seorang Adipati Kadipaten Sumenep yang sangat terkenal. Adipati Joko tole sangat terkenal karena dia adalah seorang yang tulus, setia dan penyanyang. Sampai-sampai Joko Tole menjadi simbol kesetian dan ketulusan. Selain kesetiaan dan ketulusannya, Joko Tole juga terkenal akan kesaktiannya.

Dalam perjalan kehidupannya, Joko Tole pernah mengabdi kepada Raja Majapahit. Raja Mjapahit tertarik dengan kesatiaan Joko Tole karena pernah berhasil membangun kembali gerbang isatana Majapahit. Raja juga sangat terkesan dengan Joko Tole bukan hanya dengan kesaktiannya tetapi juga dengan kesetiaan dan ketulusannya.

Kestiaan Joko Tole terbukti dengan telah diselesaikannya tugas dari raja dengan baik. Tugas yang diberikan raja pun tidak mudah, membutuhkan ketrampilan dan kesaktian, biasanya juga tugas tersebut mempertaruhkan nyawa Joko Tole.

Tugas yang diselesaikan Joko Tole antara lain membasmi bajak laut yang ada di perairan kerajaan Majapahit yang selalu mengganggu rakyat, berperang dengan penjahat ulung yang selalu meresahkan rakyat, serta tugas berat lainnya yaitu menjadi mata-mata kerajaan lain.

Walaupun tugas sangat berat, Joko Tole tidak pernah mengeluh sedikit punatau menolak. Dia selalu menerima tugasnya dengan hati yang ikhlas. Dia berpikir bahwa tugas yang diberikannya merupakan suatu kehormatan karena yang memberi tugas adalah rajanya sendiri.

Karena tugas-tugas inilahmembuat hubungan Joko Tole dengan raja semakin dekat. hal ini menyebabkan munculnya desas-desusyang menyudutkan Joko Tole, terutama para pembesar kerajaan. Mereka iri dengan kedekatan Joko Tole dengan raja. Mereka merasa tersaingi dan berpikir bahwa Joko Tole adalah orang yang menghalangi cita-cita mereka.

Desas-desus tersebut dengan cepat menyebar dikalangan kerajaan maupun dikalangan rakyat biasa. Ada kabar yang mengatakan bahwa Joko Tole mempunyai tujuan tertentu mendekati raja. Joko Tole mengambil kesempatan selama dekat dengan raja untuk mendapatkan harta yang banyak. Ada juga kabar yang lebih tidak mengenakan hati, bahwa Joko Tole mendekati raja karena Ingin mengambil hati putri sang raja.

Tak lama kemudian desas-desus tersebut terdengar oleh sang raja. Raja tidak percaya dengan desas-desus tersebut karena karena raja yakin bahwa Joko Tole adalah seorang yang setia dan tulus, tidak mungkin dia mempunyai niat ataupun pikiran tentang hal itu.

Raja pun bingung karena desas-desus itu tak kunjung berhenti. Suatu malam raja tidak bisa tidur karena memikiran hal itu. Bagaiman caranya untuk membuktikan bahwa Joko Tole memang setia. Atau apakah benar Joko tole mempunyai maksud tertentu dan perlu diuji kesetiaannya.

Akhirnya, setelah berpikir panjang, raja akan menguji kesetian Joko Tole dengan menikahkannya dengan salah satu putrinya. Nama putri itu adalah Dewi Retnadi. Dewi Retnadi mempunyai wajah yang sangat cantik jelita karena memang keturunan bangsawan dan berbudi baik, tetapi dia buta.

“Kalau Joko Tole menolak dinikahkan dengan Dewi Retnadi, maka desas-desus itu memang benar bahwa Joko Tole berharap mendapatkan putri raja yang diinginkannya,” pikir raja.

Keesokan harinya, raja memanggil Joko Tole untuk menghadap. Kemudian raja menyampaikan apa yang telah direncanakan kepada Joko Tole.

“Hambaku, ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan kepadamu. Ini bukan merupakan tugas, melainkan suatu niatanku yang sudah aku pendam sejak lama. Bagaimana kalau aku menikahkanmu dengan putriku Dewi Retnadi,” tanya sang raja.

“Tuanku, apa yang ditugaskan maupun apa yang menjadi keinginan tuanku, hamba akan melaksankannya dengan baik. Si aya akan menerima Dewi Retnadi menjadi istri hamba. Walaupun saya tahu bahwa Dewi Retnadi buta, tapi saya akan tetap mencintai dan menjaganya,” jawab Joko Tole.

Raja terkejut mendengar jawaban seperti itu dari Joko Tole. Raja tidak mengira bahwa Joko Tole yang sakti mandraguna itu mau menerima Dewi Retnadi sebagai istrinya walaupun dalam keadaan buta.

Raja senang karena desas-desus yang semakin menyebar itu tidak benar, raja pun sangat bersyukur karena putrinya Dewi Retnadi yang walapun buta mendapatkan suami yang setia kepadanya. Begitu gembira raja langsung memerintahkan rakyatnya untuk mempersiapkan pesta pernikahan putri Dewi Retnadi dengan Joko Tole.