Showing posts with label Majapahit. Show all posts
Showing posts with label Majapahit. Show all posts

Tuesday, April 21, 2015

Damarwulan Part 2

Damarwulan menjadi raja majapait
Damarwulan
Setelah mendengar sayembara itu, ia hanya diam terpaku. Hati dan pikirannya kacau karena ia telah menjadi tunangan Dewi Anjasmara, adik Layang Seto dan Layang Kumitir.

Adu tanding dengan Layang Seto dan Layang Kumitir atau bertanding dengan ksatria muda yang tangguh lainnya di keraton Majapahit ia pasti kalah. Apalagi bertanding dengan Menak Jingga yang sakti mandraguna dengan gada sakti besi kuningnya yang ditakuti lawannya. Ia sadar bahwa ia tidak ada apa-apanya dan ia tidak pantas mengikuti sayembara.

“Kakang Damarwulan, pergilah mengikuti sayembara, jangan pedulikan aku. Urusan negara lebih penting dari segalanya. Sang Prabu sangat baik dan berjasa bagi keluarga kita, ini kesempatan yang baik untuk membalas jasa dan budi baik sang Prabu selama ini,”kata Dewi Anjasmara.

Dengan ucapan Dewi Anjasmara yang memberi semangat dan dorongan moral dengan tidak disertai cemburu, akhirnya Damarwulan mau mengikuti sayembara tersebut dan bertekad akan menghadapi Menak Jingga.

Pagi itu, Layang Seto dan Layang Kumitir pergi ke alun-alun untuk mengikuti adu tanding lawan ksatria-ksatria kertaon. Mereka begitu yakin akan memenangkan pertarungan dan mewakili Majapahit bertarung melawan Raja Blambangan.

Berbeda dengan Damarwulan. Dia adalah seorang yang cerdas dan pemikirannya begitu cemerlang. Ia berpikir dahulu sebelum melangkah. Ia mempunyai rencana untuk mempertaruhkan nyawanya demi kejayaan Majapahit bukan dengan adu tanding. Ia akan mencuri gada sakti Minak Jingga yang ampuh dengan menyelinap ke dalam keraton Blambangan.

“Tanpa gada sakti besi kuning yang ditakuti ini, raja Blambangan kurang digdaya dan aku bisa mengalahkannya,” pikir Damarwulan.

Malam itu Damarwulan mulai menyelinap ke dalam keraton Blambangan. Suasana keraton Blambangan sangat nyaman dan tenang sehingga memudahkan ia masuk dalam ruangan keraton.

Dengan menyamar sebagai abdi dalem, akhirnya Damarwulan dapat menemukan tempat peraduan utama Prabu Menak Jingga. Ia mempunyai tugas menyediakan arak kegemaran Menak Jingga yang selalu diminum sebelum tidur.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Damarwulan. Namun ketika mau memasuki kamar Menak Jingga, ia bertemu dengan Wahita dan Puyengan, selir Menak Jingga. Wahita dengan paras yang memikat mendekati dan mulai merayu Damarwulan.

“kemari, Baginda sudah menunggu araknya!” perintah Wahita.

Tak ketinggalan Puyengan yang ayu, dia juga ikut menggoda Damarwulan dengan kelingan matanya.

Damarwulan adalah pemuda yang gagah berparas tampan. Semua wanita akan terpikat denganketampanannya. Rayuan maupun godaan Wahita dan Puyengan tidak menyurutkan niat Damarwulan untuk mengambil gada sakti milik Menak Jingga.

Sebentar kemudian Wahita dan Puyengan keluar dari kamar Menak Jingga dan bersungut-sungut karena dipikiran Menak Jingga hanyalah Prabu Kenya Kencana Wungu yang akan dipinangnya besok. Mereka berdua marah dan mempunyai niat membunuh Menak Jingga.

Kemudian, mereka mengahasut Damarwulan untuk membunuh raja Blambangan itu, setelah memergoki Damarwulan ingin mencuri gada sakti. Mereka juga menceritakan kelemahan Menak Jingga.

“Menak Jingga ada kelemahan di pangkal paha sebelah kiri. Jika engkau memukulkan gada sakti itu tepat di paha tersebut, Menak Jingga akan mati,”kata mereka.

Malam itu juga Damarwulan lagsung mengambil gada sakti dan menuju ke kamar Menak Jingga dengan diikuti oleh Wahita dan Puyengan. Damarwulan langsung menyerang Menak Jingga yang sedang tidur pulas dengan memukulkan gada sakti tepat di pangkal paha sebelah kiri. Menak Jingga menjerit kesaktian dan dengan tenaga yang masih tersisa Menak Jingga masih sempat bertarung dengan Damarwulan sekaligus membunuh dua selirnya dan dia sendiri akhirnya mati.

Selanjutnya Damarwulan memenggal kepala Menak Jingga untuk dipersembahkan kepada Prabu Kenya Kencana Wungu. Ia juga mengambil mahkota raja Blambangan serta gada sakti besi kuning. Kemudian membawanya pergi.

Dalam perjalanan ke Majapahit, Damarwulan dihadang oleh Layang Seto dan Layang Kumitir yang mengetahui bahwa Damarwulan pergi ke Blambangan untuk mengambil gada sakti dari Dewi Anjasmara kekasih Damarwulan.

Karena kepandaian silat Damarwulan tidak sebanding dengan keduanya, maka Damarwulan dapat dikalahkan dengan mudah. Damarwulan kemudian diikat. Penggalan kepala Menak Jingga langsung dibawa lari menuju Keraton Majapahit untuk dipersembahkan kepada Prabu Kenya Kencana Wungu.

Sesampainya di keraton, Layang Seto dan Layang Kumitir menyerahkan kepala Menak Jingga sebagai bukti bahwa ia telah mengalahkan Menak Jingga. Prabu Kenya Kencana Wungu sangat senang mendengarnya dan bahagia setelah melihat kepala Menak Jingga dengan mata kepala sendiri. Kemudian bersabda menepati janji kepada Layang Seto dan Layang Kumitir.

Tak lama kemudian datanglah Damarwulan dan Dewi Anjasmara. Ternyata Damarwulan ditolong oleh Dewi Anjasmara dan bergegas menuju Keraton Majapahit. Prabu Kenya Kencana Wungu bingung karena melihat Damarwulan dengan memakai mahkota Menak Jingga dan membawa gada sakti besi kuning Blambangan.

Setelah Dewi Anjasmara menyampaikan yang terjadi sebenarnya, bahwa Damarwulanlah yang telah mengalahkan Menak Jingga bukan Layang Seto dan Layang Kumitir. Mereka berdua hanya menghadang Damarwulan diperbatasan dan merampas penggalan kepala Menak Jingga. Namun Layang Seto dan Layang Kumitir tidak menerima pengaduan itu.

Prabu Kenya Kencana Wungu adalah raja yang bijaksana, ia tidak begitu saja percaya keduanya. Ia memerintahkan supaya diadakan perang tanding antara Damarwulan melawan Layang Seto dan Layang Kumitir.

Keesokan harinya perang tanding dilaksanakan. Sungguh perang tanding yang sangat hebat dan seru karena Damarwulan menggunakan gada sakti besi kuning untuk melawan Layang Seto dan Layang Kumitir yang sama-sama saktinya.

Akhirnya perang tanding dimenangkan oleh Damarwulan, sedangkan Layang Seto dan Layang Kumitir terkapar di tanah. Maka jelaslah pemenang pertarungan adalah Damarwulan.

Patih Logender tidak terima kedua anaknya kalah. Ia kemudian turun ke arena pertandingan. Namun dari arah yang lain muncul sosok tubuh yang kekar menghadang Ptih Logender.

Dia adalah Menak Sembuyu adik Menak Jingga. Dia memohon izin kepada Prabu Kenya Kencana Wungu untuk mengambil kepala Menak Jingga dan membawa pulang ke Blambangan untuk di kebumikan sebagai penghormatan terkahir.

Permohonan itu dikabulkan oleh Parbu Kenya Kencana Wungu dan penggalan kepala menak Jingga diserahkan kepada Menak Sembuyu disaksikan rakyat Majapahit.

Menak Sembuyu juga menjelaskan bahwa yang membunuh kakaknya adalah Damarwulan dengan menggunakan gada sakti besi kuning yang telah dicurinya terlebih dahulu.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, Prabu Kenya Kencana Wungu menegaskan kembali janjinya untuk segera mengangkat Damarwulan sebagai raja Majapahit yang baru.

Mulai saat itu, secara resmi Damarwulan menjadi suami Prabu Kenya Kencana Wungu. Damarwulan menjadi raja Kerajaan Majapahit dengan gelar Prabu Sri Kertawijaya atau Bhre Wijaya I. Sementara itu, Dewi Anjasmara diangkat sebagai Selir Damarwulan. Begitu juga dengan Layang Seto dan Layang Kumitir, mereka diangkat sebagai panglima perang Kerajaan Majapahit.

Raja muda Damarwulan dalam memerintah Majapahit sangat bijaksana, sehingga dapat mengantarkan Majapahit menuju jaman keemasan.

Damarwulan Part 1

Logo Kerajaan majapahit
Kerajaan Majapahit mengalami masa kejayaan dalam pemerintahan Hayam Wuruk dengan gelar Rajasanegara. Hayam Wuruk mempunyai dua orang istri.dari permaisuri Bhre Parameswara ia mendapat putri bernama Bhre Lasem. Bhre Lasem menikah dengan Wikrawardhana dan kemudian mepunyai anak bernama Dewi Suhita.

Sementara itu, dengan selirnya, Hayam Wuruk mempunyai dua orang putra. Bhre Wirabumi atau yang dikenal dengan nama Menak Jingga dan Minak Sembuyu. Mereka berdua tidak berhak menggantikan raja karena mereka keturunan seorang selir. Yang berhak menggantikan raja adalah Dewi Suhita karena ia anak seorang permaisuri sekalipun dia perempuan.

Menak Jingga dan Menak Sembuyu tidak setuju dengan diangkatnya Dewi Suhita menjadi raja Majapahit dengan gelar Prabu Kenya Kencana Wungu. Maka, dengan dibantu ibunya, Menak Jingga mengadakan gerakan di dalam keraton dan mempengaruhi punggawa untuk mengadakan perang terbuka. Dan terjadilah kelaparan yang panjang akibat perang saudara tersebut.

Kemelut panjang itu dikenal dengan sebutan”perang Paregreg”. Sebuah perang besar atau pertikaian yang telah melemahkan dan menghancurkan kekuatan pemerintahan di Majapahit.

Perang Paregreg itu membuat Prabu Kenya Kencana Wungu merasa prihatin dengan pemerintahan Majapahit. Akhirnya, beliau menyerahkan tampuk pimpinan kepada suaminya, Hyang Parasmeswara.

Perang tersebut sangat dahsyat dan memakan banyak korban. Pasukan Prabu Kenya Kencana Wungu dapat mendesak pasukan Menak Jingga. Menak Jingga dan Menak Sembuyu serta ibunya melarikan diri ke Blambangan. Blambangan adalah sebuah wilayah kecil di bawah kekuasaan Majapahit.

Di Blambangan itulah Menak Jingga akhirnya membangun keraton dan mengikrarkan diri sendiri sebagai Raja Blambangan. Sementara itu, Menak Sembuyu diangkat menjadi patih serta panglima perang Kerajaan Blambangan. Menak Jingga memerintah Blambangan dengan hati yang selalu tetap mengharapkan tahta Majapahit.

Walaupun Menak Jingga sudah terdesak dan melarikan diri, tetapi perang Paregreg belum selesai. Pada saat itu suami Prabu Kenya Kencana Wungu, Hyang Parameswara meninggalkan Majapahit menuju ke tanah Malaka karena alasan tertentu.

Kepergian Hyang Parameswara ini memberi peluang Menak Jingga untuk menguasai Majapahit. Dia tetap bertekad untuk menikah dengan Prabu Kenya Kencana Wungu dan membalas dendam kepada Majapahit.

Dengan siasatnya, Menak Jingga akan menyerang dan memberontak Keraton Majapahit dengan alasan melamar Prabu Kenya Kencana Wungu. Akan tetapi Prabu Kenya Kencana Wungu menolaknya. Ia tidak mau menerima karena Menak Jingga adalah seorang raja yang memiliki sifat tamak serta angkara murka. Kekuasaan pemerintahan Prabu Kencana Wungu lebih besar dibandingkan dengan Menak Jingga. Dan juga Menak Jingga sudah mempunyai dua orang istri yang cantik sebagai selir bernama Wahita dan Puyengan. Menak Jingga tidak menjadikan salah satu dari mereka menjadi permasuri karena Prabu Kenya Kencana Wungu yang patut menjadi permaisurinya.

Menak Jingga sangat marah, dan mengiring bala pasukannya ke perbatasan dan mulai melakukan penyerbuan. Ini membuktikan bahwa Menak Jingga tidak main-main.

Prabu Kencana Wungu adalah seorang raja yang cerdas. Walaupun mengalami ketegangan dan kesedihan ia tetap tegar. Secara cepat ia mengambil taktik yang jitu, yaitu meralat penolakannya menjadi permaisurinya Menak Jingga. Ia mau menerima asalkan Menak Jingga mau melakukan beberapa syarat. Dengan rayuan maut dan bujuk rayunya, hati Menak Jingga akhirnya meluluh. Prabu Kenya Kencana Wungu hanya mengulur waktu untuk dapat mempersiapkan pasukan dan siasatnya.

Menak Jingga segera memerintahkan pasukannya berhenti menyerbu dan menyerang pasukan Majapahit. Serta pasukannya tidak boleh masuk ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit.

Kesempatan itu digunakan Prabu Kenya Kencana Wungu untuk mengatur siasat. Dia mengumumkan sayembara perang tanding. Barang siapa yang menang akan ditugaskan untuk melawan Menak Jingga. Jika dapat mengalahkan Menak Jingga akan dijadikan suaminya dan berhak memerintah kerajaan Majapahit.

Pengumuman lisan ini segera menyebar keseluruh pelosok Majapahit. Mulai dari Patih Logender yang kemudia meneruskannya kepada para panglima perang serta seluruh punggawa Majapahit.

Patih Logender adalah Patih yang sangat setia. Patih Logender telah lama mengabdi dan mendarmabaktikan dirinya demi kerajaan Majapahit sejak Prabu Hayam Wuruk masih memerintah. Dia juga dibantu anak-anaknya yaitu Layang Seto dan Layang Kumitir.

Tidak beda dengan panglima dan punggawa lainnya, setelah mendengar sayembara tersebut, Layang Seto dan Layang Kumitir tertarik untuk mengikutinya. Mereka tertarik karena mengaggumi kecantikan Prabu Kenya Kencana Wungu.

Sayembara itu juga di dengar oleh seorang pemuda yang bernama Damarwulan. Ia seorang pemuda yang juju dan berbudi luhur yang mengabikan dirinya kepada Patih Logender, pamannya.

Tuesday, March 17, 2015

Joko Tole Part 2

Cinta Joko Tole
Joko Tole menikah dengan Dewi Retnadi
Pesta pernikahan diselengarakandan digelar di seluruh penjuru kerajaan dengan sangat meriah. Banyak sekali pergelan dan tontonan menarik yang diadakan pada saat pesta pernikahan itu. Rakyat bergotong-royong menyukseskan pernikahan putri rajanya. Memang benar bukan saja kerajaan Majapahit sebagai kerajaan yang kaya dan makmur tetapi rakyatnya pun hidup rukun dan damai.

Rakyat sangat setuju dengan pernikahan mereka berdua. Joko Tole adalah seorang pemuda yang setia dan tulus hatinya, sedangkan Dewi Retnadi seorang putri raja yang baik budi dan welas asih. Namun ada rakyat yang tidak setuju, mereka berpikir karena mengapa raja memberikan seorang istri yang buta kepada joko tole yang telah berjasa bagi kerajaan.

Setelah pernikahan selesai, Joko Tole berniat memboyong istrinya ke tanah kelahirannya, yaitu Pulau Madura. Dewi Retnadi pun setuju dan besok mereka berdua akan menghadap raja untuk memohon restu.

Pagi-pagi benar Joko Tole dan Dewi Retnadi sudah menghadap raja dan mengutarakan maksudnya.

“Baginda, hari ini hamba mempunyai rencana untuk memboyong Dewi Ratnadi ke Pulau Madura, semoga Baginda mau merestuinya,”kata Joko Tole memohon.

“Joko Tole, aku percaya kepadamu, putriku akan bahagia bersamamu. Aku merestui perjalanmu,” kata Baginda.

“Terimakasih atas restunya, Baginda,” jawab Joko Tole dengan gembira.

Setelah mempersiapkan bekal secukupnya, mereka pun berangkat. Begitu sayangnya pada Dewi Retnadi, Joko Tole menggendongnya dalam perjalanan dan segala pasti menyediakan dan melakukannya dengan setia dan tulus hati. Seperti makanan, minuman,bahkan Joko Tole bercerita dalam perjalanan agar Dewi Retnadi tidak merasa bosan.

Siang itu matahari begitu teriknya. Kota Gresik adalah kota pelabuhan yang sangat ramai. Banyak sekali para pedagang dari luar Jawa dan luar negeriyang berlabuh di situ. Tibalah Joko Tole dan Dewi Retnadi di pelabuhan itu.

Kemudian mereka berdua menaiki kapal untuk menyebrang ke Pulau Madura. Mereka sangat menikmati perjalanan tersebut. Apalagi Dewi Retnadi yang walaupun buta tetap bisa merasakan hembusan angin yang panas siang hari dan malam hari. Maklum Dewi Retnadi sejak lahir berada di Keraton Majapahit terus dan tidak mengenal dunia luar. Apalagi sampai menyebrang Selat Madura.

Sesampainya di Pulau Madura, Dewi Retnadi merasa kegerahan karena keadaan cuaca di Madura terlalu panas. Langsung saja ia meminta suaminya untuk mencarikan air yang akan digunakan untuk mandi.

“Kakang aku kegerahan, tolong carikan air,ya. Aku ingin mandi,”pinta Dewi Retnadi.

“Ya, aku akan mencarikan air buatmu, tunggu sebentar,ya! Jawab Joko Tole.

Tak berapa lama kemudian munculah Joko Tole dengan wajah tampak lesu. Dia tidak mendapatkan air yang dibutuhkan istrinya.

“Aku sudah mencarinya kemana-mana tetapi memang tidak ada sumber air atau sumur didaerah ini. Tetapi demi kamu aku akan berusaha mendapatkannya,” kata Joko Tole.

Kemudian Joko Tole meminjam tongkat yang dibawa oleh Dewi Retnadi dan menancapkannya tongkat itu ke tanah. Dari dalam tanah bekas tancapan itu keluarlah air yang langsung menyembur ke atas. Semburan air itu tepat mengenai wajah Dewi Retnadi.

Dewi Retnadi terkejut dan langsung mengusap wajahnya dengan tangan. Setelah diusap, ia tambah terkejut karena matanya dapat melihat. Dewi Retnadi sangat gembira karena bisa melihat ketampanan wajah suaminya serta melihat keindahan dunia untuk pertam kalinya.

Begitu juga dengan Joko Tole, ia gembira karena istrinya sekarang dapat melihat, apalagi ternyata mata istrinya sangat indah.

Sumber air yang membuat Dewi Retnadi dapat melihat sekarang bernama mata air Socca. Socaa artinya mata.

Perjalan ke rumah Joko Tole masih jauh, tetapi mereka tampak senang dan menikmati perjalanan tersebut. Sekarang Joko Tole tidak harus menggendong Dewi Retnadi lagi karena dia sekarang sudah dapat melihat dengan jelas.

Sesekali Dewi Retnadi meminta Joko Tole untuk berhenti sejenak karena kelelahan. Saat istirahat itulah digunakan Dewi Retnadi untuk mandi. Memang hawa di Pulau Madura sangat panas. Air yang digunakan untuk mandi diperoleh dengan cara yang sama dengan menancapkan tongkat ke tanah. Memang benar di sepanjang perjalanan Joko Tole dan istrinya tidak ada sumur maupun mata air.

Air menyembur cukup deras setelah Joko Tole menancapkan tongkatnya ke tanah. Sampai-sampai air itu menghanyutkan pakaian Dewi Retnadi. Kemudian, dengan kesaktian Joko Tolealiran sungai itu diubah arahnya kembali menuju ke dewi Retnadi lagi, sehingga dengan mudah istrinya mengambil pakain tersebut.

Sumber air yang menghanyutkan pakaian Dewi Retnadi sekarang dikenal dengan nama sumber Omben yang artinya mata air pakaian dalam perempuan. Dinamakan begitu mungkin karena dahulu pernah menghanyutkan pakaian Dewi Retnadi.

Kemudian sampailah mereka di Sumenep, tanah kelahiran Joko Tole. Sumenep adalah sebuah Kabupaten di sebelah timur Pulau Madura. Adipatinya bernamaSaccadiningrat, kakak kandung dari Joko Tole sendiri. Kedatangan mereka disambut oleh Bapak dan Ibu Joko Tole serta saudara-saudaranya dengan gembira. Memang sudah lama sekali Joko Tole meninggalkan tanah kelahirannya.

“Anakku Joko Tole, akhirnya engkau pulang juga. Aku sudah rindu padamu. Ooh, ini siapa? Pasti mantu ibu, cantik sekali,” sambut ibu Joko Tole dengan gembira.

“ Benar bu, ini Dewi Retnadi istri Joko. Dia putri raja Majapahit,”jelas Joko Tole.

Orang tua Joko Tole merasa bangga karena menantunya adalah seorang putri raja yang sangat cantik.

Joko Tole dan Dewi Retnadi hidup bahagia di Sumenep. Bahkan akhirnya, Joko Tole menggantikan kakaknya sebagai adipati Sumenep. Mereka tinggal di sana Selama-lamanya.

Tuesday, March 10, 2015

Joko Tole Part 1

foto Joko tole
Joko Tole
Joko tole adalah seorang Adipati Kadipaten Sumenep yang sangat terkenal. Adipati Joko tole sangat terkenal karena dia adalah seorang yang tulus, setia dan penyanyang. Sampai-sampai Joko Tole menjadi simbol kesetian dan ketulusan. Selain kesetiaan dan ketulusannya, Joko Tole juga terkenal akan kesaktiannya.

Dalam perjalan kehidupannya, Joko Tole pernah mengabdi kepada Raja Majapahit. Raja Mjapahit tertarik dengan kesatiaan Joko Tole karena pernah berhasil membangun kembali gerbang isatana Majapahit. Raja juga sangat terkesan dengan Joko Tole bukan hanya dengan kesaktiannya tetapi juga dengan kesetiaan dan ketulusannya.

Kestiaan Joko Tole terbukti dengan telah diselesaikannya tugas dari raja dengan baik. Tugas yang diberikan raja pun tidak mudah, membutuhkan ketrampilan dan kesaktian, biasanya juga tugas tersebut mempertaruhkan nyawa Joko Tole.

Tugas yang diselesaikan Joko Tole antara lain membasmi bajak laut yang ada di perairan kerajaan Majapahit yang selalu mengganggu rakyat, berperang dengan penjahat ulung yang selalu meresahkan rakyat, serta tugas berat lainnya yaitu menjadi mata-mata kerajaan lain.

Walaupun tugas sangat berat, Joko Tole tidak pernah mengeluh sedikit punatau menolak. Dia selalu menerima tugasnya dengan hati yang ikhlas. Dia berpikir bahwa tugas yang diberikannya merupakan suatu kehormatan karena yang memberi tugas adalah rajanya sendiri.

Karena tugas-tugas inilahmembuat hubungan Joko Tole dengan raja semakin dekat. hal ini menyebabkan munculnya desas-desusyang menyudutkan Joko Tole, terutama para pembesar kerajaan. Mereka iri dengan kedekatan Joko Tole dengan raja. Mereka merasa tersaingi dan berpikir bahwa Joko Tole adalah orang yang menghalangi cita-cita mereka.

Desas-desus tersebut dengan cepat menyebar dikalangan kerajaan maupun dikalangan rakyat biasa. Ada kabar yang mengatakan bahwa Joko Tole mempunyai tujuan tertentu mendekati raja. Joko Tole mengambil kesempatan selama dekat dengan raja untuk mendapatkan harta yang banyak. Ada juga kabar yang lebih tidak mengenakan hati, bahwa Joko Tole mendekati raja karena Ingin mengambil hati putri sang raja.

Tak lama kemudian desas-desus tersebut terdengar oleh sang raja. Raja tidak percaya dengan desas-desus tersebut karena karena raja yakin bahwa Joko Tole adalah seorang yang setia dan tulus, tidak mungkin dia mempunyai niat ataupun pikiran tentang hal itu.

Raja pun bingung karena desas-desus itu tak kunjung berhenti. Suatu malam raja tidak bisa tidur karena memikiran hal itu. Bagaiman caranya untuk membuktikan bahwa Joko Tole memang setia. Atau apakah benar Joko tole mempunyai maksud tertentu dan perlu diuji kesetiaannya.

Akhirnya, setelah berpikir panjang, raja akan menguji kesetian Joko Tole dengan menikahkannya dengan salah satu putrinya. Nama putri itu adalah Dewi Retnadi. Dewi Retnadi mempunyai wajah yang sangat cantik jelita karena memang keturunan bangsawan dan berbudi baik, tetapi dia buta.

“Kalau Joko Tole menolak dinikahkan dengan Dewi Retnadi, maka desas-desus itu memang benar bahwa Joko Tole berharap mendapatkan putri raja yang diinginkannya,” pikir raja.

Keesokan harinya, raja memanggil Joko Tole untuk menghadap. Kemudian raja menyampaikan apa yang telah direncanakan kepada Joko Tole.

“Hambaku, ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan kepadamu. Ini bukan merupakan tugas, melainkan suatu niatanku yang sudah aku pendam sejak lama. Bagaimana kalau aku menikahkanmu dengan putriku Dewi Retnadi,” tanya sang raja.

“Tuanku, apa yang ditugaskan maupun apa yang menjadi keinginan tuanku, hamba akan melaksankannya dengan baik. Si aya akan menerima Dewi Retnadi menjadi istri hamba. Walaupun saya tahu bahwa Dewi Retnadi buta, tapi saya akan tetap mencintai dan menjaganya,” jawab Joko Tole.

Raja terkejut mendengar jawaban seperti itu dari Joko Tole. Raja tidak mengira bahwa Joko Tole yang sakti mandraguna itu mau menerima Dewi Retnadi sebagai istrinya walaupun dalam keadaan buta.

Raja senang karena desas-desus yang semakin menyebar itu tidak benar, raja pun sangat bersyukur karena putrinya Dewi Retnadi yang walapun buta mendapatkan suami yang setia kepadanya. Begitu gembira raja langsung memerintahkan rakyatnya untuk mempersiapkan pesta pernikahan putri Dewi Retnadi dengan Joko Tole.