Showing posts with label Jawa Timur. Show all posts
Showing posts with label Jawa Timur. Show all posts

Tuesday, April 21, 2015

Damarwulan Part 2

Damarwulan menjadi raja majapait
Damarwulan
Setelah mendengar sayembara itu, ia hanya diam terpaku. Hati dan pikirannya kacau karena ia telah menjadi tunangan Dewi Anjasmara, adik Layang Seto dan Layang Kumitir.

Adu tanding dengan Layang Seto dan Layang Kumitir atau bertanding dengan ksatria muda yang tangguh lainnya di keraton Majapahit ia pasti kalah. Apalagi bertanding dengan Menak Jingga yang sakti mandraguna dengan gada sakti besi kuningnya yang ditakuti lawannya. Ia sadar bahwa ia tidak ada apa-apanya dan ia tidak pantas mengikuti sayembara.

“Kakang Damarwulan, pergilah mengikuti sayembara, jangan pedulikan aku. Urusan negara lebih penting dari segalanya. Sang Prabu sangat baik dan berjasa bagi keluarga kita, ini kesempatan yang baik untuk membalas jasa dan budi baik sang Prabu selama ini,”kata Dewi Anjasmara.

Dengan ucapan Dewi Anjasmara yang memberi semangat dan dorongan moral dengan tidak disertai cemburu, akhirnya Damarwulan mau mengikuti sayembara tersebut dan bertekad akan menghadapi Menak Jingga.

Pagi itu, Layang Seto dan Layang Kumitir pergi ke alun-alun untuk mengikuti adu tanding lawan ksatria-ksatria kertaon. Mereka begitu yakin akan memenangkan pertarungan dan mewakili Majapahit bertarung melawan Raja Blambangan.

Berbeda dengan Damarwulan. Dia adalah seorang yang cerdas dan pemikirannya begitu cemerlang. Ia berpikir dahulu sebelum melangkah. Ia mempunyai rencana untuk mempertaruhkan nyawanya demi kejayaan Majapahit bukan dengan adu tanding. Ia akan mencuri gada sakti Minak Jingga yang ampuh dengan menyelinap ke dalam keraton Blambangan.

“Tanpa gada sakti besi kuning yang ditakuti ini, raja Blambangan kurang digdaya dan aku bisa mengalahkannya,” pikir Damarwulan.

Malam itu Damarwulan mulai menyelinap ke dalam keraton Blambangan. Suasana keraton Blambangan sangat nyaman dan tenang sehingga memudahkan ia masuk dalam ruangan keraton.

Dengan menyamar sebagai abdi dalem, akhirnya Damarwulan dapat menemukan tempat peraduan utama Prabu Menak Jingga. Ia mempunyai tugas menyediakan arak kegemaran Menak Jingga yang selalu diminum sebelum tidur.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Damarwulan. Namun ketika mau memasuki kamar Menak Jingga, ia bertemu dengan Wahita dan Puyengan, selir Menak Jingga. Wahita dengan paras yang memikat mendekati dan mulai merayu Damarwulan.

“kemari, Baginda sudah menunggu araknya!” perintah Wahita.

Tak ketinggalan Puyengan yang ayu, dia juga ikut menggoda Damarwulan dengan kelingan matanya.

Damarwulan adalah pemuda yang gagah berparas tampan. Semua wanita akan terpikat denganketampanannya. Rayuan maupun godaan Wahita dan Puyengan tidak menyurutkan niat Damarwulan untuk mengambil gada sakti milik Menak Jingga.

Sebentar kemudian Wahita dan Puyengan keluar dari kamar Menak Jingga dan bersungut-sungut karena dipikiran Menak Jingga hanyalah Prabu Kenya Kencana Wungu yang akan dipinangnya besok. Mereka berdua marah dan mempunyai niat membunuh Menak Jingga.

Kemudian, mereka mengahasut Damarwulan untuk membunuh raja Blambangan itu, setelah memergoki Damarwulan ingin mencuri gada sakti. Mereka juga menceritakan kelemahan Menak Jingga.

“Menak Jingga ada kelemahan di pangkal paha sebelah kiri. Jika engkau memukulkan gada sakti itu tepat di paha tersebut, Menak Jingga akan mati,”kata mereka.

Malam itu juga Damarwulan lagsung mengambil gada sakti dan menuju ke kamar Menak Jingga dengan diikuti oleh Wahita dan Puyengan. Damarwulan langsung menyerang Menak Jingga yang sedang tidur pulas dengan memukulkan gada sakti tepat di pangkal paha sebelah kiri. Menak Jingga menjerit kesaktian dan dengan tenaga yang masih tersisa Menak Jingga masih sempat bertarung dengan Damarwulan sekaligus membunuh dua selirnya dan dia sendiri akhirnya mati.

Selanjutnya Damarwulan memenggal kepala Menak Jingga untuk dipersembahkan kepada Prabu Kenya Kencana Wungu. Ia juga mengambil mahkota raja Blambangan serta gada sakti besi kuning. Kemudian membawanya pergi.

Dalam perjalanan ke Majapahit, Damarwulan dihadang oleh Layang Seto dan Layang Kumitir yang mengetahui bahwa Damarwulan pergi ke Blambangan untuk mengambil gada sakti dari Dewi Anjasmara kekasih Damarwulan.

Karena kepandaian silat Damarwulan tidak sebanding dengan keduanya, maka Damarwulan dapat dikalahkan dengan mudah. Damarwulan kemudian diikat. Penggalan kepala Menak Jingga langsung dibawa lari menuju Keraton Majapahit untuk dipersembahkan kepada Prabu Kenya Kencana Wungu.

Sesampainya di keraton, Layang Seto dan Layang Kumitir menyerahkan kepala Menak Jingga sebagai bukti bahwa ia telah mengalahkan Menak Jingga. Prabu Kenya Kencana Wungu sangat senang mendengarnya dan bahagia setelah melihat kepala Menak Jingga dengan mata kepala sendiri. Kemudian bersabda menepati janji kepada Layang Seto dan Layang Kumitir.

Tak lama kemudian datanglah Damarwulan dan Dewi Anjasmara. Ternyata Damarwulan ditolong oleh Dewi Anjasmara dan bergegas menuju Keraton Majapahit. Prabu Kenya Kencana Wungu bingung karena melihat Damarwulan dengan memakai mahkota Menak Jingga dan membawa gada sakti besi kuning Blambangan.

Setelah Dewi Anjasmara menyampaikan yang terjadi sebenarnya, bahwa Damarwulanlah yang telah mengalahkan Menak Jingga bukan Layang Seto dan Layang Kumitir. Mereka berdua hanya menghadang Damarwulan diperbatasan dan merampas penggalan kepala Menak Jingga. Namun Layang Seto dan Layang Kumitir tidak menerima pengaduan itu.

Prabu Kenya Kencana Wungu adalah raja yang bijaksana, ia tidak begitu saja percaya keduanya. Ia memerintahkan supaya diadakan perang tanding antara Damarwulan melawan Layang Seto dan Layang Kumitir.

Keesokan harinya perang tanding dilaksanakan. Sungguh perang tanding yang sangat hebat dan seru karena Damarwulan menggunakan gada sakti besi kuning untuk melawan Layang Seto dan Layang Kumitir yang sama-sama saktinya.

Akhirnya perang tanding dimenangkan oleh Damarwulan, sedangkan Layang Seto dan Layang Kumitir terkapar di tanah. Maka jelaslah pemenang pertarungan adalah Damarwulan.

Patih Logender tidak terima kedua anaknya kalah. Ia kemudian turun ke arena pertandingan. Namun dari arah yang lain muncul sosok tubuh yang kekar menghadang Ptih Logender.

Dia adalah Menak Sembuyu adik Menak Jingga. Dia memohon izin kepada Prabu Kenya Kencana Wungu untuk mengambil kepala Menak Jingga dan membawa pulang ke Blambangan untuk di kebumikan sebagai penghormatan terkahir.

Permohonan itu dikabulkan oleh Parbu Kenya Kencana Wungu dan penggalan kepala menak Jingga diserahkan kepada Menak Sembuyu disaksikan rakyat Majapahit.

Menak Sembuyu juga menjelaskan bahwa yang membunuh kakaknya adalah Damarwulan dengan menggunakan gada sakti besi kuning yang telah dicurinya terlebih dahulu.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, Prabu Kenya Kencana Wungu menegaskan kembali janjinya untuk segera mengangkat Damarwulan sebagai raja Majapahit yang baru.

Mulai saat itu, secara resmi Damarwulan menjadi suami Prabu Kenya Kencana Wungu. Damarwulan menjadi raja Kerajaan Majapahit dengan gelar Prabu Sri Kertawijaya atau Bhre Wijaya I. Sementara itu, Dewi Anjasmara diangkat sebagai Selir Damarwulan. Begitu juga dengan Layang Seto dan Layang Kumitir, mereka diangkat sebagai panglima perang Kerajaan Majapahit.

Raja muda Damarwulan dalam memerintah Majapahit sangat bijaksana, sehingga dapat mengantarkan Majapahit menuju jaman keemasan.

Damarwulan Part 1

Logo Kerajaan majapahit
Kerajaan Majapahit mengalami masa kejayaan dalam pemerintahan Hayam Wuruk dengan gelar Rajasanegara. Hayam Wuruk mempunyai dua orang istri.dari permaisuri Bhre Parameswara ia mendapat putri bernama Bhre Lasem. Bhre Lasem menikah dengan Wikrawardhana dan kemudian mepunyai anak bernama Dewi Suhita.

Sementara itu, dengan selirnya, Hayam Wuruk mempunyai dua orang putra. Bhre Wirabumi atau yang dikenal dengan nama Menak Jingga dan Minak Sembuyu. Mereka berdua tidak berhak menggantikan raja karena mereka keturunan seorang selir. Yang berhak menggantikan raja adalah Dewi Suhita karena ia anak seorang permaisuri sekalipun dia perempuan.

Menak Jingga dan Menak Sembuyu tidak setuju dengan diangkatnya Dewi Suhita menjadi raja Majapahit dengan gelar Prabu Kenya Kencana Wungu. Maka, dengan dibantu ibunya, Menak Jingga mengadakan gerakan di dalam keraton dan mempengaruhi punggawa untuk mengadakan perang terbuka. Dan terjadilah kelaparan yang panjang akibat perang saudara tersebut.

Kemelut panjang itu dikenal dengan sebutan”perang Paregreg”. Sebuah perang besar atau pertikaian yang telah melemahkan dan menghancurkan kekuatan pemerintahan di Majapahit.

Perang Paregreg itu membuat Prabu Kenya Kencana Wungu merasa prihatin dengan pemerintahan Majapahit. Akhirnya, beliau menyerahkan tampuk pimpinan kepada suaminya, Hyang Parasmeswara.

Perang tersebut sangat dahsyat dan memakan banyak korban. Pasukan Prabu Kenya Kencana Wungu dapat mendesak pasukan Menak Jingga. Menak Jingga dan Menak Sembuyu serta ibunya melarikan diri ke Blambangan. Blambangan adalah sebuah wilayah kecil di bawah kekuasaan Majapahit.

Di Blambangan itulah Menak Jingga akhirnya membangun keraton dan mengikrarkan diri sendiri sebagai Raja Blambangan. Sementara itu, Menak Sembuyu diangkat menjadi patih serta panglima perang Kerajaan Blambangan. Menak Jingga memerintah Blambangan dengan hati yang selalu tetap mengharapkan tahta Majapahit.

Walaupun Menak Jingga sudah terdesak dan melarikan diri, tetapi perang Paregreg belum selesai. Pada saat itu suami Prabu Kenya Kencana Wungu, Hyang Parameswara meninggalkan Majapahit menuju ke tanah Malaka karena alasan tertentu.

Kepergian Hyang Parameswara ini memberi peluang Menak Jingga untuk menguasai Majapahit. Dia tetap bertekad untuk menikah dengan Prabu Kenya Kencana Wungu dan membalas dendam kepada Majapahit.

Dengan siasatnya, Menak Jingga akan menyerang dan memberontak Keraton Majapahit dengan alasan melamar Prabu Kenya Kencana Wungu. Akan tetapi Prabu Kenya Kencana Wungu menolaknya. Ia tidak mau menerima karena Menak Jingga adalah seorang raja yang memiliki sifat tamak serta angkara murka. Kekuasaan pemerintahan Prabu Kencana Wungu lebih besar dibandingkan dengan Menak Jingga. Dan juga Menak Jingga sudah mempunyai dua orang istri yang cantik sebagai selir bernama Wahita dan Puyengan. Menak Jingga tidak menjadikan salah satu dari mereka menjadi permasuri karena Prabu Kenya Kencana Wungu yang patut menjadi permaisurinya.

Menak Jingga sangat marah, dan mengiring bala pasukannya ke perbatasan dan mulai melakukan penyerbuan. Ini membuktikan bahwa Menak Jingga tidak main-main.

Prabu Kencana Wungu adalah seorang raja yang cerdas. Walaupun mengalami ketegangan dan kesedihan ia tetap tegar. Secara cepat ia mengambil taktik yang jitu, yaitu meralat penolakannya menjadi permaisurinya Menak Jingga. Ia mau menerima asalkan Menak Jingga mau melakukan beberapa syarat. Dengan rayuan maut dan bujuk rayunya, hati Menak Jingga akhirnya meluluh. Prabu Kenya Kencana Wungu hanya mengulur waktu untuk dapat mempersiapkan pasukan dan siasatnya.

Menak Jingga segera memerintahkan pasukannya berhenti menyerbu dan menyerang pasukan Majapahit. Serta pasukannya tidak boleh masuk ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit.

Kesempatan itu digunakan Prabu Kenya Kencana Wungu untuk mengatur siasat. Dia mengumumkan sayembara perang tanding. Barang siapa yang menang akan ditugaskan untuk melawan Menak Jingga. Jika dapat mengalahkan Menak Jingga akan dijadikan suaminya dan berhak memerintah kerajaan Majapahit.

Pengumuman lisan ini segera menyebar keseluruh pelosok Majapahit. Mulai dari Patih Logender yang kemudia meneruskannya kepada para panglima perang serta seluruh punggawa Majapahit.

Patih Logender adalah Patih yang sangat setia. Patih Logender telah lama mengabdi dan mendarmabaktikan dirinya demi kerajaan Majapahit sejak Prabu Hayam Wuruk masih memerintah. Dia juga dibantu anak-anaknya yaitu Layang Seto dan Layang Kumitir.

Tidak beda dengan panglima dan punggawa lainnya, setelah mendengar sayembara tersebut, Layang Seto dan Layang Kumitir tertarik untuk mengikutinya. Mereka tertarik karena mengaggumi kecantikan Prabu Kenya Kencana Wungu.

Sayembara itu juga di dengar oleh seorang pemuda yang bernama Damarwulan. Ia seorang pemuda yang juju dan berbudi luhur yang mengabikan dirinya kepada Patih Logender, pamannya.

Joko Dolog

cerita kisah joko dolog
Patung Joko Dolog

Kadipaten Surabaya terletak di bagian timur Pulau Jawa. Adipatinya bernama Jayengrana mempunyai seorang putri yang cantik sekali yang bernama Dewi Purbasari. Kecantikannya sudah terkenal di seluruh negeri.

Suatu hari Adipati Jayengrana kedatang tamu dari madura yang bernama Pangeran Situbondo. Dia didamping oleh dua orang pengawal yang bernama Gajah Seta dan Gajah Menggala. Pangeran Situbondo adalah putra Adipati Cakraningrat, seorang bupati di Madura.

“Ada maksud apa kiranya Pangeran berkunjung ke Kadipaten Surabaya”, tanya Jayangrana.

“Maksud kedatangan saya untuk meminang putri Paman Jayengrana yaitu Putri Dewi Purbawati”, jawab Pangeran Situbondo.

Mendengar penjelasan dari Pangeran Situbondo, Adipati Jayengrana tidak dapat mengabil keputusan sendiri. Dia tidak bisa begitu saja menerima pinangan itu.

“Pangeran, biarlah saya berembuk dulu dengan Dewi Purbasari”,pinta Jayengrana.

“Saya tunggu keputusan Dewi Purbasari,paman”, jawab Pangeran Situbondo.

Adipati Jayengrana kemudian menemui putrinya dan menyampaikan maksud kedatangan Pangeran Situbondo.

Sebenarnya Dewi Purbasari tidak menyukai Pangeran Situbondo karena mempunyai watak brangasan. Cara bicaranya pun tidak sopan. Apalagi dia juga mempunyai cacat kaki sehingga jalannya pincang.

Adipati Jayengrana menjadi bingung. Ia mencari cara untuk menolak pinangan Pangeran Situbondo dengan cara halus agar Pangeran Situbondo dan Adipati Cakradiningrat tidak tersinggung. Kemudian, Adipati Jayengrana berkata kepada putrinya.

“Putriku, terimalah pinangannya, tetapi dengan mengajukan sebuah syarat. Katakanlah kepadanya bahwa kamu mau dipinang asalkan Pangeran Situbondo mau membuka hutan dia daerah barat Surabaya untuk dijadikan pemukiman”,kata Adipati Jayengrana.

“Bagaimana kalau Pangeran Situbondo mampu membuka hutan itu, Ayahanda,” jawab Dewi Purbasari.

“Putriku, hutan itu sangat lebat, pohonya besar-besar dan banyak binatang buasnya. Tidak mungkin Pangeran Situbondo mampu membuka hutan itu,” jawab Adipati Jayengrana.

Mereka berdua kemudian menemui Pangeran Situbondo yang sedang menunggu di ruang pendopo.

“Pangeran Situbondo, aku akan menerima pinanganmu, tetapi aku mengajukan satu syarat. Apabila Pangeran mampu membuka hutan di sebelah barat Kadipaten Surabaya menjadi sebuah pemukiman, aku bersedia menjadi isatri Pangeran Situbondo,”pinta Dewi Purbasari.

Setelah mendengar permintaan dari Dewi Purbasari, Pangeran Situbondo menyanggupi permintaan tersebut. Dia tertawa senang karena Dewi Purbasari yang diidam-idamkan itu mau menjadi istrinya, walaupun dengan syarat yang sangat berat.

“Baik Dewi Purbasari, aku menyanggupi syaratmu itu walaupun itu sangat berat bagiku. Aku akan membuka hutan di sebelah barat Kadipaten Surabaya untukmu,”jawab Pangeran Situbondo.

Kemudian, Pangeran Situbondo menyuruh pengawalnya pulang untuk mengabarkan kepada ayahnya. Sementara ia sendiri langsung menuju hutan Surabaya untuk memulai membabat hutan.

Selang beberapa hari kemudian, Adipati kedatangan tamu yang bernama Jaka Taruno, putra Bupati Kediri. Jaka Taruno adalah kekasih Dewi Purbasari.

Kemudian, Dewi Purbasari menceritakan kedatangan Pangeran Situbondo dari Madura itu yang hendak meminangnya. Dan menceritan juga syarat yang diberikan kepada pangeran tersebut.

“Jangan begitu, Purbasari. Jika Pangeran Situbondo mampu membuka hutan, lalu aku bagaimana?” kata Jaka Taruno.

“Sabarlah, Kangmas. Jangan khawatir aku masih tetap mencintaimu. Kalau Kangmas khawatir, bagaimana kalau Kangmas menyusul Pangeran Situbondo ke hutan dan menggagalkan Pangeran Situbondo membuka hutan,” rayu Dewi Purbasari

Jaka Taruno langsung berangkat menuju hutan menyusul Pangeran Situbondo. Dilihatnya ia masih asyik mengayunkan kapanya untuk menebang pohon

“Kisanak apa yang kau lakukan di hutan ini?” tanya Jaka Taruno.

“Aku ingin membuka hutan ini dan akan ku jadikan sebuah pemukiman,” jawab Pangeran Situbondo.

“Kuperingatkan, jangan merusak hutan di barat Kadipaten Surabaya ini. Hentikan pekerjaanmu! Atau aku yang akan menghentikannya!” bentak Jaka Taruno tiba-tiba.

Kemudian, terjadilah perang mulut antara kedua pemuda tersebut, sehingga terjadi perkelahian yang seru. Dalam perkelahian itu, Jaka Taruno berhasil dilemparkan oleh Pangerang Situbondo hingga tersangkut di atas pohon siwalan.

Jaka Taruno meminta tolong agar diturunkan dari pohon itu, tetapi ditinggalkan saja oleh Pangeran Situbondo. Jaka Taruno terus saja menjerit, meminta tolong.

Tak lama kemudian, lewatlah seorang pemuda yang bernama Jaka Jumput. Pemuda itu setiapa hari masuk hutan untuk mencari dedaunan, kulit pohon dan akar-akaran untuk dijadikan jamu.

Jaka Jumput tinggal di desa yang bernama Praban Kinco. Dia mempunyai senjata pusaka yang bernama Cemeti Lanang yang selalu dibawanya pergi kemana saja.

Mendengar ada suara minta tolong lalu Jaka Jumput berlari ke arah sumber suara itu. Ternyata ada seorang pemuda di atas pohon yang ketakutan tidak bisa turun. Kemudian, Jaka Jumput memanjat pohon dan menurunkannya.

“Mengapa engkau sampai berada di atas pohon itu?” tanya Jaka Jumput.

“Aku baru saja berkelahi dengan seseorang. Namanya Pangeran Situbondo. Dia sedang merusak hutan, semua pohon ditebanginya, aku sudah melarangnya, tapi aku malah dipukuli dan dilemparnya ke atas pohon siwalan itu. Apakah kamu rela hutan ini jadi rusak?” jawab Jaka Taruno sambil menghasut.

“Aku tidak rela hutan ini rusak! Kalau hutan ini rusak aku kesulitan menacri bahan untuk membuat jamu. Ayo tunjukan dimana pemuda itu!” pinta Jaka Jumput.

Kemudian, mereka berdua mencari Pangeran Situbondo. Dengan wajah yang bersungut-sungut akhirnya mereka melihat Pangeran Situbondosedang istirahat karena kelelahan menebang pohon.

Langsung saja Jaka Jumput menyerang Pangeran Situbondo yang baru saja tiduran. Dihajarnya Pangeran Situbondo dengan menggunakan pusaka Cemiti Lanang. Pertarungan berjalan seru karena kedua sama-sama sakti. Akhirnya, Jaka Jumput berhasil mengalahkan dan membunuh Pangeran Situbondo.

Sesaat kemudian Jaka Taruno sudah berada di dekat Jaka Jumput. Disuruhnya Jaka Jumput mengambil ikat kepala Pangeran Situbondo. Kemudian, ikat kepala itu diserahkan kepada Jaka Taruno.

Jaka Taruno memang licik. Setelah diterimanya ikat kepala itu, dia langsung lari meninggalkan Jaka Jumput sendirian. Jaka Jumput merasa ditipu, lalu mengejar Jaka Taruno ke Kadipaten Surabaya.

Tak lama kemudian sampailah Jaka Taruno di Kadipaten Surabaya. Jaka Taruno mengahturkan sembah dan kemudian menceritakan bahwa Pangeran Situbondo telah dibunuhnya. Lalu ia mengeluarkan sebuah ikat kepala dan menyerahkannya kepada Adipati Jayengrana.

Setelah melihat dan menerimanya, Jayengrana merasa lega karena ikat kepala tersebut memang benar-benar milik Pangeran Situbndo. Dewi Purbasari pun merasa senang karena ia tidak jadi menikah dengan Pangeran Situbondo.

Baru saja dikejutkan dengan kedangan Jaka Taruno, tiba-tiba munculah Jaka Jumput. Setelah menghaturkan sembah , Jaka Jumput langsung menerangkan kejadian yang sebenarnya.

“Adipati, sayalah yang membunuh Pangeran Situbondo. Saya juga yang telah menolong Jaka Taruno dari atas pohon siwalan karena dilempar oleh Pangeran Situbondo” jelas Jaka Jumput.

Setelah mendengar penjelasan itu, Jaka Taruno hanya terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Adipati Jayengrana langsung menanyai Jaka Taruno, apakah benar yang dikatakan pemuda itu. Jaka Taruno hanya menduduk tidak mau menjawab.

Berkali-kali Adipati Jayengrana mengulangi pertanyaannya, tapi Jaka Taruno tidak pernah menjawabnya. Karena jengkel sekali, Adipati Jayengrana marah dan mengumpat Jaka Taruno.

“Jaka Taruno, jawab pertanyaanku. Kenapa kamu diam saja. Kamu itu seperti patung,” geram Adipati Jayengrana.

Saat itu juga Jaka Taruno berubah menjadi sebuah patung yang sekarang bernama Patung Joko Dolog. Demikianlah asal-usul Patung Joko Dolog.

Sunday, April 19, 2015

Asal-Usul Banyuwangi Part 3

Bunga mawar Putih Besar banyuwangi
Mawar Putih
Pada suatu hari pandanwungu berkunjung ke rumah Ni Kembang Arun setelah mendengar bahwa cucunya telah hilang dan Ni Kembang Arun sakit-sakitan. Bukannya menghibur, Pandanwungu malah mencaci maki menantunya karena telah teledor meninggalkan anaknya sendiri sehingga hilang di curi orang. Dan menuduhnya telah membunuh anaknya sendiri.

Setelah puas mencaci maki,kemudian Pandanwungu pergi meninggalkan rumah menantunya.

Ni Kembang Arun semakin sedih, sudah kehilangan anaknya, malah dituduh membunuh anaknya sendiri oleh mertuanya. Saat seperti itulah ia membutuhkan kehadiran suaminya . “Kakang Sidapaksa, cepetalah pulang...”,doa Ni Kembang Arun. Tuhan Maha Adil, doa Ni Kembang Arun akhirnya terkabul.

Hari itu tampak Patih Sidapaksa memasuki istana kerajaan sambil membawa kembang Kandaga Sangga Buana. Raja Sindureja dan Permaisurinya sangat gembira karena Patih Sidapaksa berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Setelah menceritakan perjalanannya ke Gunung Ijen, Patih Sidapaksa mohon pamit kepada raja.

“ ya sudah....pulanglah, istrimu pasti sudah kangen, engaku sendiri pasti kangen, bukan?” Kata Raja.

Kepulangan Patih Sidapaksa telah terdengar oleh Pandanwungu. Kemudian ia berniat mencegat anaknya sebelum sampai kerumahnya dan menghasut dengan menceritakan bahwa Ni Kembang Arun telah membunuh anaknya sendri.

“Istrimu itu memang wanita jahat! Anakmu yang baru lahir itu dibunuhnya, lalu dibuang di pinggir sungai tepi hutan. Kalau tidak percaya, pisau yang digunakan untuk membunuh anakmu masih disembunyikan di balik tilam tempat tidurnya”, kata Pandanwungu.

Tanpa pikir panjang, Patih Sidapaksa langsung menaiki kudanya dan bergegas menuju rumahnya dan langsung memasuki kamarnya.

“Istri tidak tahu diuntung. Ayo bangun! Kau telah membunuh anakku dan membuangnya ke sungai tepi hutan, bukan?” kata Patih Sidapaksa dengan nada marah.

“Kau bunuh anakku dengan pisau ini, maka kau harus mati ditanganku dengan pisau ini juga”, bentak Patih Sidapaksa.“

Apabila kakang hendak membunuhku, kabulkanlah permintaanku yang terakhir. Aku ingi mengakhiri hidupku di pinggir sungai bersama anakku”, kata Ni Kembang Arun.

Dengan cepat Ptih Sidapaksa menggendong istrinya keluar rumah menuju sungai tepi hutan seperti yang pernah dikatakan ibunya.

Setelah sampai, turunlah Ni Kembang Arun dari gendongan suaminya. Ia lalu berjalan menuju tepi sungai dan menangis.

“Oh,anakku...sungguh malang nasibmu. Tunjukan dirimu anakku, Ibu sangat rindu...”, rinti Ni Kembang Arun.

Tiba-tiba, dari tengah sungai yang berlumpur dan berbau busuk itu muncullah sekuntum bunga putih. Bunga putih itu hanyut dan menuju ke arah Ni Kembang Arun yang sedang duduk sambil menamgis. Pada bunga itu tampak sangat jelas anak yang sedang dirindukannya.

Ni Kembang Arun terbelalak matanya karena terkejut dan gembira. Seperti hilang ingatan, Ni Kembang Arun langsung melompat ke arah bunga tersebut. Tubuh Ni Kembang Arun lenyap dan tenggelam ditelan derasnya arus sungai itu.

Sesaat kemudian munculah sekuntum bunga putih yang jauh lebih besar dari bunga sebelumnya. Di samping bunga besar itu muncul bunga yang kecil tadi.

Kejadian itu begitu cepat. Patih Sidapaksa hanya bisa tertegun menyaksikan kejadian tersebut. Dia sadar setelah mendengar suara dari arah bunga itu.

“Kakang, wujud bunga-bunga ini sebenarnya adalah penampakan aku dan anakmu. Warna putih menandakan bahwa aku tidak punya hati keji dan kotor. Kakang, apabila air sungai yang keruh dan berbau busuk ini berubah menjadi air yang jernih dan berbau harum, tandanya saya benar-benar tidak berdosa”, kata Ni Kembang Arun.

“Ayahhanda tercinta, yang membunuh dan membunuh ananda adalah nenek Pandawungu, yakni ibu ayahanda sendiri”, terdengar suara anaknya.

“ Jadi yang Membunuh anakku adalah ibuku sendiri. Oh...Ni Kembang Arun istriku...maafkan kakang! Aku telah berbuat salah kepadamu. Harusnya aku lebih mempercayaimu daripada ibuku sendir”, kata Sidapaksa dengan penuh penyesalan.

Setelah sadar dri penyesalanya, Patih Sidapaksa terkejut ketika menyadari bahwa air sungai yang tadinya keruh dan berbau busuk itu sudah berubah menjadi jernih dan berbau harum.

Patih Sidapaksa teringat kata-kata istrinya bahwa semua perubahan itu menunjukan bahwa hati istrinya suci dan tidak berdosa. Akhirnya, dengan perasaan sangat bersalah dan hati yang remuk, Patih Sidapaksa meninggalkan tempat yang telah membuka kejahatan ibunya.

Ternyata sejak tadi Pandanwungu mengintip dan menyaksikan semua kejadian tadi. Pandanwungu merasa sangat ketakutan kalau anaknya murka dan memarahinya, ia pun bersembunyi. Tiba-tiba angin bertiup kencang sekali. Langit yang tadinya cerah menjadi gelap gulita. Suari petir menyambar kesana kesini.

Pandanwungu semakin takut dan keluar dari persembunyiaanya. Pada saat keluar tepat sebuah petir menyabar tubuhnya. Pandanwungu roboh dan menjerit kesakitan. Tubuhnya hangus dan berubah menjadi arang.



Sejak kejadian itulahm sungai tepi hutan itu berubah menjadi harum dan wangi airnya. Sehingga sungai itu dinamai sungai Banyuwangi, yang memiliki arti air harum. Sungai itu terletak disebelah timur pulau jawa. Dan hutan itu berubah menjadi kota yang bernama BANYUWANGI.

Asal-Usul Banyuwangi Part 2

Pagi itu hari sangat cerah. Ni Kembang Arun melakukan tugas sehari-hari seperti biasa dan tidak mengenal lelah. Sorenya Ni Kembang Arun merasakan nyeri pada perutnya. Kemudia ia memanggil Bibi Emban.

anak Ni Kembang Arun
Bayi Lucu
Beberapa menit kemudian Bibi Emban masuk ke kamar Ni Kembang Arun. Bibi Emban langsung memeriksa perut Ni Kembang Arun. Mungkin ini tanda-tanda melahirkan sudah dekat. Cepat-cepat Bibi Emban memanggil dukun beranak yang tidak jauh dari rumahnya.

Dukun beranak itu kemudian datang dan membantu persalinan Ni Kembang Arun. Beberapa saat kemudian seorang bayi laki-laki mugil. Alangkah bahagianya hati Ni Kembang Arun karena anaknya lahir dengan selamat dan ternyata berjenis kelamin laki-laki. Ia berharap besok dapat meneruskan cita-cita ayahnya.

Berita kelahiran anak Ni Kembang Arun sampai juga ke telinga Pandanwungu. Ibu Sidapaksa sangat senang. Senang bukan karena cucnya sudah lahir, tetapi senang karena rencana jahatnya untuk mencelakakan Ni Kembang Arun sudah tiba waktunya. Keesokan harinya, Pandanwungu sengaja menjenguk menantunya yang baru saja melahirkan.

“selamat ya... Aku sudah lama menantikan kehadiran cucuku ini. Aku sangat senang dan bahagia hari ini”, Kata Pandanwungu.

“terimakasih ibu. Semoga anak ini dapat menjadi harapan dan kebanggaan ayahnya”, jawab Ni Kembang Arun.

“Harapanku juga”’,sahut Pandanwungu

Seminggu sudah berlalu, Ni Kembang Arun Sedikit demi Sedikit pulih kembali kesehatannya setelah melahirkan. Ia sudah bisa pergi sendiri, mandi dan mencuci. Sementara itu, Pandanwungu sering menjenguk kerumahnya.

“Aku akan sering kemari dan akan kubawakan oleh-oleh sampai kesehatannmu sampai benar-benar pulih. Dan aku akan membantu mengurus anakmu”, kata Pandanwungu.

Ni kembang Arun menjadi semakin percaya dan tak pernah menaruh prasangka buruk lagi pada mertuanya. Ia berpikir bahwa mertuanya telah berubah dan mulai sayang kepadanya setelah kelahiran cucunya.

Suatu hari seperti biasanya Pandanwungu menjenguk cucunya. Ia akan melaksanakan rencana jahatnya menculik dan membunuh cucunya sendiri. Kebetulan saat sampai disana Ni Kembang Arun akan berangkat mandi.

“Sudah berangkat mandi sana, ibu akan menjaganya, tapi ibu tidak akan lama-lama disini!” Kata Pandanwungu.

“Terimakasih, Bu”, jawab Ni kembang Arun.

Pandanwungu tidak kehabisan akal, ia menyuruh Bibi Emban untuk pergi. Setelah sepi diraihlah bayiyang tak berdosa itu dan dibanyapergi menuju hutan. Tepat di pinggir sungai di tepi hutan itulah Pandanwungu menikam cucunya sendiri dengan pisau dan kemudian membuang cucunya ke sungai yang keruh dan berbau busuk itu.

Alangkah terkejutnya Ni Kembang Arun, Karena setelah sampai di rumah ia tidak menemukan anaknya. Anakku telah hilang, pikirnya. Kemudian, ia menanyakan kepada Bibi Emban, tetapi Bibi Emban tidak tahu karena dia disuruh pergi oleh mertuanya. Ni Kembang Arun mulai curiga, bahwa yang mengambil anaknya adalah Pandanwungu, mertuanya. Namun tidak punya cukup bukti.

Setelah kehilangan anaknya, Ni Kembang Arun mulai sakit-sakitan dan pikirannya mulai terganggu. Ia mulai lupa makan dan minum. Bagaimana kalau suaminya pulang dan menanyakan anaknya?

Saturday, April 18, 2015

Asal-Usul Banyuwangi Part 1

cerita legenda Asal-Usul Banyuwangi
Asal-Usul Banyuwangi
Di jawa Timur terdapatlah kerajaan yang bernama Karang Sewu.Raja yang memegang pemerintahan bernama Prabu Sindureja. Beliau raja yang sangat bijaksana dan adil, sehingga rakyatnya selalu menjunjung tinggi apa yang dikatakannya

Kerajaan ini sangat kaya raya, terbukti dengan adanya istana yang indah dan megah. Rakyatnya pun hidup dengan damai dan sejahtera karena kerajaan ini sangat subur dan makmur.

Siang itu, di dalam istana tamplah Prabu Sindureja sedang bercakap-cakapbersama permaisurinya, Kencanawati, mereka sedang membicarakan Patih Sidapaksa, Patih Sidapaksa adalah seorang patih yang setia dan gagah perkasa.

Memang dalam menjalankan pemerintahannya, Prabu Sindureja banyak dibantu oleh Prabu sidapaksa. Dia selalu dapat menjalankan tugas yang diberikan kepadanya dengan baik walaupun tugas itu sangat berat

“Dinda, hari ini aku baru saja memberikan waktu istirahat kepada Patih Sidapaksa selama 2 minggu, dia baru saja melaksanakan tugasnya dengan baik. Ia membutuhkan waktu istirahat yang lama”, kata Prabu Sindureja.

“saya tahu Baginda adalah Raja yang bijaksana, apapun yang menjadi kebijakan Baginda pasti baik buat Patih Sidapaksa”,jawab Kencanawakti.

Lagi asyik berbincang-bincang, datanglah Bibi Pandanwungu . Ia dalah ibu dari Patih Sidapaksa. Ada apa gerangan Bibi Pandanwungu datang ke istana, apa yang terjadi dengan Patih Sidakpaksa, Putramu?

Setelah menghaturkan sembah, Bibi Pandanwungu menjelaskan maksud kedatangannya dan juga mengabarkan bahwa Patih Sidapaksa dalam keadaan sehat.

“Maksud kedatangan saya ingin membicarakan kembang Kandaga Sangga Buana. Kembang yang dapat meremajakan kecantikan abadi bagi yang memakainya. Kembang ituhanya ada dipubncak Gunung Ijen, dan dijaga oleh binatang buas”, Kata Bibi Pandang Wungu.

“tapi siapa yang mau menempuh perjalanan berbahaya untuk mendapatkan bunga itu” tanya Dinda Kencanawati.

“ Biar anak saya, Patih Sidapaksa yang akan melaksanakan tugas ini, dia pasti mau menjalankan tugas ini walaupun masih istirahat”, Ujar Bibi Pandanwungu

Stelah berpikir, raja menugaskan Ptih Sidapaksa untuk mengambil bunga itu. Dan Bibi pandanwungu untuk menyampaikan tugas ini kepada anaknya.

Setelah sampai dirumah, Bibi Pandanwungu menyampaikan tugas ini kepada anaknya yang sedang beristirahat. Dia membujuk agar Patih Sidapaksa mau menerima dan berangkat ke Gunung Ijen walaupun masih membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Akhirnya, Demi kesetiaan kepada Raja Parbu Sidureja, Patih Sidapaksa berangkat ke istana. Sebelum ia berangkat,Patih Sidapaksa berpamitan pada istrinya, Ni Kembang Arun yang sedang mengandung dan akan segera melahirkan putra pertamany. Ia juga pamit pada ibunya serta berpesan untuk menjaga dan merawat istrinya selama dia tidak ada dirumah. Kemudian, Patih Sidapaksa berangkat Ke Istana.

“Sudah siapkah engkau menerima perintahku, wahai Patih Sidapaksa”Tanya Prabu Sindureja.

“Daulat, Baginda. Saya sudah siap untuk menjalankan tugas yang akan disampaikan Baginda”,Kata Patih Sidapaksa.

“Patih, Engkau akan Kutugaskan untuk pergi ke puncak Gunung Ijen. Carilah bunga yang benama Kembang Kandaga Sangga Buana. Petiklah dan persemabhkan untuk permaisuriku Kencanawati”, perintah Prabu Sindureja.

Setelah dijelaskan tugasnya dan mendapatkan restu dari Prabu Sindureja, Patih Sidapaksa Berangkat ke puncak Gunung Ijen yang terkenal sangat berbaya dengan menunggangi kuda kesayangannya.

Patih Sidapaksa memacu kudanya begitu cepatnya,sehingga tak berapa lama ia sudah sampai di pinggir hutan yang banyak Ditumbuhi pohon besar dan semak belukar.

Setelah memasuki dan melewati hutan itu, sampailah Pati Sidapaksa di lereng Gunung Ijen. Sambil beristrirahat, ia melamunkan istrinya yang akan melahirkan. Alangkah bahagianya jika anak pertamnya sudah lahir kedunia. Ia terus mengucapkan doa-doa untu kesehatan istri dan anaknya.

Saat melantunkan doanya, tioba-tiba ia teringat peristiwa itu, ibunyatidak setuju anaknya mendapatkan istri Ni Kembang Arun. Patih Sidapaksa pun berharap ibunya sudah tidak membenci istrinya lagi.

Apa yang dibayangkan oleh Patih Sidapaksa ternyata salah. Ternyata perilaku ibunya terhadap istrinya tidak berubah. Dia mulai menunjukan rasa tidak suka dan menunjukan benih-benih kebencian terhadapat Ni Kembang Arun mulai tumbuh.

Pada suatu hari ibu Patih Sidapaksa berkunjung kerumah Ni Kembang Arun, Saat itu Ni kembang Arun sedang membuat pakaian anaknya yang akan dilahirkan kelak. Ibu Patih Sidapaksa langsung marah-marah dan mengucapkan kata-kata penghinaan.

“Kembang Arun, dasar wanita tolol, goblok, engkau tahukah suamimu sedang pergi ke puncak Gunung Ijen, mengapa kamu duduk-duduk saja dirumah. Seharusnya kamu pergi keistana untuk mendapatkan perhatian raja dan ratudan pergaulan kerabat kerajaan tetap terjaga. Dasar gadis kampung tak tahu adat. Engkau sebenarnya tak pantas menjadi istri pejabat kerajaan”, Bentak Pandanwungu.

“Ibu, Saya memang gadis dusun dan kuran pengetahuan, tetapi saya diajarkan orang tua saya, bahwa wanita tidak boleh ikut campur dengan urusan suminya, kecuali kalau diminta. Namun, kalau raja dan ratu memerlukan saya agar datang keistana, tentu saja saya akan memenuhinya”, jawab Ni Kembang Arun.Mendengar jawaban Ni Kembang Arun begitu, Pandanwungu langsung pergi begitu saja.

“Percuma bicara dengan wanita bodoh. Wanita seperti akan segera ku lenyapkan. Tinggal tunggu waktu saja”, Katanya dalam hati.

Waktu terus berlalu. Patih Sidapaksa belum terdengar kabarnya. Dengan setia Ni Kemabng Arun menunggu dan mendoakan suaminya agar cepat pulang.

Sunday, March 29, 2015

Asal-Usul Madura

Dahulu kala berdirilah sebuah kerajaan di atas pegungan Tengger. Kerajaan itu bernama kerajaan Medangkamulan. Letak kerajaan itu dekat kawah Gunung Tengger.

Kerajaan Medangkamulan diperintah oleh seorang raja yang bernama Raja Gilingwesi. Keadaan kerajaan tersebut aman dan sejahtera karena sang raja yang sangat arif dan bijaksana serta adil dalam memimpin kerajaannya, sehingga rakyaatnya hidup tentram dan hormat kepadanya.

Pada sauatu hari duduklah sang raja seorang diri sambil termenung. Ia sedang sedih memikirkan puterinya yang sudah cukup umur tapi belum menikah. Padahal sudah banyak pangeran dan raja dari kerajaan tetangga yang melamarnya. Namun sang putri selalu menolak.

Sessat Kemudian raja memanggil Ki Patih Pranggulang.

“Ki Patih, tahukah Ki Patih bahwa Raden Ayu Tanjung Sekar adalah satu-satunya putri yang amat saya cintai. Dia sangat cantik, sikapa dan tutur katanya sangat lembut. Tetapi ada satu hal yang masih mengecewakan hati saya”, keluh Sang Raja.

“Gusti, sebenarnya sesuatu hal yang mana dari sang putri yang masih mengecewakan Gusti?”, Sahut Ki Patih.

“ Ki Patih kan tahu, bahwa saya sudah ingin menimang-nimang cucu. Tetapi kapan keinginan saya ini akan terlaksana kalau putri saya sendirimenolak setiap ada yang melamarnya”, jelas raja Gilingwesi.

“Gusti, sebaiknya kita berdoa saja, sabar akan memberikan kesempatan sang putri agar segera menemukan pilihan yang terbaik”, sahut Ki Patih.

Beberapa saat kemudian terjadilah suatu peristiwa yang mendadak dan mengejutkan. Sang putri hamil, padahal belum memiliki seorang suami.

Kejadian ini berawal dari sebuah mimpi yang dialami sang putri pada saat ridur lelap.rasanya dalam mimpi itu sang putri berada di sebuah taman yang sangat indah. Pada saat sang putri berdiri di bawah bulan purnama, maka tiba-tiba bulan purnama itu muncul dan menuju sang putri lalu masuk ke dalam perut sang putri.

Lama-lama perut sang putri semakin membesar dan ternya dirinya hamil tanpa memiliki suami.

Betapa terpukulnya hati sang raja dan beratnya menahan rasa malu.untung kejadian itu tidak di ketahui rakyatnya, sehingga tidak ada tuduhan bahwa putrinya telah berbut zina, karena hamil tidak diketahui siapa lelakinya.

Meskipun sang putri telah menjelaskan kejadian yang sebnarnya kepada ayahandanya, bahwa kehamilannya terjadi setelah mimpi yang aneh, ia tetap tidak percaya dan bahkan sang raja semakin marah sekali.

Dengan geram sang raja memanggil Patih Pranggulang.

“Hai Parnggulang, bawa putri yang memalukan ini kedalam hutan dan bunuhlah!” Perintah sang raja.

Dengan perasaan sedih dan pilu sambil terisak tangis putri Tanjung Sekar tetap dibawa kehutan oleh Patih Pranggulang.

Setelah berhari-hari berjalan, sampilah mereka di hutan bakau. Di situlah mereka berhenti dan sang patih mulai menjalankan tugasnya membunuh sang putri. Namun, sebelumnya sang putri berpesan kepada Ki Patih Pranggulang.

“Ki Patih, Bunulah saya sekarang juga. Saya serahkan dengan ikhlas nyawa ini. Namun, ketahuilah bahwa saya tak bersalah dan tak mungkin mati karena pedangmu itu”,tanntang sang putri.

Setelah selesai bicara itu, maka Ki Patih Pranggulang mengayunkan pedangnya ke leher sang putri. Namun, apa yang terjadi, pedang Ki Patih Pranggulangterpental seperti ada yang menangkis.

Akhirnya ki Patih Pranggulang sadar, dan berkata dalam hati bahwa apa yang diucapkan sang putri itu benar , sehingga pedangnya terpental dan tidak mampu membunuhnya.

Dengan rasa iba, Ki Patih Pranggulang mempersilahkan sang putri pergi jauh meninggalkan Pulau Jawa.

“Putri, sekarang saya sadar, bahwa putri tidak bersalah atas kehamilan sang putri. Sebaiknya putri mencari tempat yang aman untuk menyelamatkan kandungan sang putri sampai masa kehamilan berakhir. Dan saya sendiri tidak akan kembali ke Medangkamulan, tetapi saya akan bertapa untuk menenangkan hati dan menjalani sisa hidup saya ini. Saya akan mendoakan agar putri dan bayi yang dilahirkan nanti dalam kebahagian bersama”,ucap Ki Patih Pranggulang.

Selesai berkata demikian, kemudia Ki Patih Pranggulang membuatkan putri sebuah rakit. Rakit itu diisi dengan perbekalan secukupnya untuk menyebrang ke laut lepas jauh menuju timur Pulau Jawa.

Sang putri merasa tenang dan pasrah serta selalu ingat pesan Ki Patih Pranggulang bahwa setelah anaknya lahir agar diberi nama Raden Segara, yang artinya anak laut. Patih Pranggulang juga berpesan untuk menghubungi tempat pertapaanya dulu itu dengan sebutan Ki Poleng.

Sementara rakit yang dinaiki sang putri semakin menjauh dari daratan Pulau Jawa dan akhirnya mendekat kesalah satu pulau. Betap gembira sang putri melihat salah satu daratan di sebuah pulau itu.

“kapan ya? Anaku akan lahir, aku sudah tidak sabar menantinya” kata sang putri dalam hatinya.

Tiba-tiba setelah rakitnya berada tepat dibawah bulan purnama, lahirlah sang bayi dengan selamat. Sang bayi itu diberi nama Raden Segara seperti pesan Ki Poleng, karena lahirnya ditengah lautan.

“Inilah tempat anaku nanti, aku akan membesarkan anakku ini sampai dewasa bahkan bisa hidup sampai tua denganku nanti”, Kata sang putri.
lebah madu asal usul madura
Lebah Madu

Tiba-tiba sang bayi melompat dan berlari-lari ke tepi pantai setelah melihat daratan yang sangat luas penuh reumputan. Sungguh suatu keajaiban anak yang baru beberapa hari lahir sudah bisa lari kesana kesini. Mereka berdua lalu berjalan-jalan menyusuri pantai.

Keadaan disana sunyi sepi. Tak ada seorang pun disana. Mereka hanya mendengar burung-burung berkicau, suara ombak, dan desir angin pantai. Setelah bejalan cukup lama mereka hanya melihat padang rumput yang sangat luas dan sebuah bata pohon besar.

Di bawah pohon tersebut mereka berdua beritirahat. Ternyata disalah satu dahan pohon itu ada sarang lebah yang banyak madunya. Dengan berani Raden Segara mendekati sarang lebah itu dan mengusir semua lebah penghuni sarang. Setelah lebah-lebah itu terbang jauh, mereka berdua bisa menikmati manisnya madu tersebut. Begitulah Putri Tanjung Sekar dan Raden Segara mencari madu setiap harinya

Setelah dewasa dan akhirnya sampai tua mereka tetap tinggal di pulau itu. Dengan adanya madu yang didapat di ara-ara ( bahasa Jawa ara-ara artinya ladang ), maka pulau itu mereka beri nama Pulau Madura. Raden segara atas nasihat Ki Poleng yang sudah bertemu dengan mereka akhirnya menjadi raja disitu. Begitulah asal usul pulau madura